Sat. Jan 17th, 2026
Casu Marzu

Jakarta, odishanewsinsight.com – Dalam dunia kuliner, selalu ada garis tipis antara makanan lezat dan makanan yang dianggap “terlalu ekstrem”. Di titik itulah Casu Marzu berdiri dengan sangat percaya diri. Keju tradisional asal Sardinia ini sering disebut sebagai salah satu makanan paling kontroversial di dunia. Bukan karena rasanya yang pedas atau aromanya yang menyengat, tapi karena cara pembuatannya yang, jujur saja, bikin banyak orang langsung mundur pelan-pelan.

Casu Marzu secara harfiah berarti “keju busuk”. Tapi jangan salah paham dulu. Busuk di sini bukan berarti gagal atau rusak, melainkan bagian dari proses fermentasi alami yang disengaja. Keju ini dibuat dari susu domba, lalu dibiarkan difermentasi hingga muncul larva lalat keju di dalamnya. Ya, larva hidup. Dan keju ini dikonsumsi dalam kondisi tersebut.

Di Indonesia, Casu sering muncul sebagai contoh ekstrem dalam pembahasan kuliner dunia. Media nasional kerap mengangkatnya sebagai simbol betapa beragam dan beraninya budaya makan di berbagai belahan dunia. Ada yang jijik, ada yang kagum, dan ada juga yang penasaran setengah mati.

Menariknya, Casu bukan sekadar sensasi. Bagi masyarakat lokal, keju ini adalah warisan budaya, sesuatu yang punya nilai sejarah dan emosional. Ini bukan soal pamer keberanian, tapi tentang mempertahankan tradisi yang sudah ada selama ratusan tahun.

Dan di sinilah letak daya tariknya. Casu Mazu memaksa kita untuk bertanya, apa sebenarnya batasan kuliner? Apakah makanan harus selalu nyaman dan aman menurut standar modern, atau bolehkah ia tetap liar, tradisional, dan jujur pada akarnya?

Proses Pembuatan Casu Marzu yang Bikin Dunia Tercengang

Casu Marzu

Untuk memahami Casu Marzu, kita harus mulai dari proses pembuatannya. Keju ini berasal dari Pecorino, keju susu domba khas Italia. Namun, alih-alih menghentikan fermentasi seperti pada keju biasa, proses Casu Mrzu justru dibiarkan berlanjut secara ekstrem.

Keju yang sudah matang kemudian dibiarkan terbuka agar lalat keju bertelur di dalamnya. Larva yang menetas akan memakan keju tersebut, dan proses pencernaan mereka menghasilkan tekstur yang sangat lembut, hampir seperti krim. Inilah yang dianggap sebagai tanda bahwa Casu Marzu siap dikonsumsi.

Bagi banyak orang modern, proses ini terdengar tidak higienis, bahkan berbahaya. Tidak heran jika Casu Mazu sering disebut-sebut dalam laporan kuliner sebagai makanan yang berada di zona abu-abu antara tradisi dan keamanan pangan. Media Indonesia yang membahas topik ini biasanya menekankan bahwa keju ini dilarang diperjualbelikan secara resmi di banyak tempat karena standar kesehatan.

Namun, masyarakat lokal Sardinia punya pandangan berbeda. Mereka percaya bahwa Casu Marzu yang dibuat dengan benar justru aman dikonsumsi. Larva hidup dianggap sebagai indikator kualitas. Jika larvanya mati sebelum dimakan, keju tersebut justru dianggap tidak layak konsumsi.

Ada juga ritual tersendiri dalam menyantap Casu Marzu. Keju ini biasanya dimakan bersama roti tipis dan minuman fermentasi lokal. Rasanya digambarkan sangat kuat, pedas, dan bertahan lama di mulut. Beberapa orang menyebut aftertaste-nya bisa terasa berjam-jam.

Apakah ini terdengar berlebihan? Mungkin. Tapi di dunia kuliner, batas antara ekstrem dan autentik memang sering kabur.

Casu Marzu dalam Perspektif Budaya dan Tradisi

Kalau kita hanya melihat Casu Marzu dari kacamata kuliner modern, keju ini mungkin akan langsung dicap aneh atau menjijikkan. Tapi begitu kita masuk ke konteks budaya, ceritanya jadi jauh lebih kompleks dan menarik.

Bagi masyarakat Sardinia, Casu Marzu adalah bagian dari identitas. Keju ini sering disajikan pada acara khusus, perayaan keluarga, atau momen penting lainnya. Ia bukan makanan sehari-hari, melainkan simbol keberanian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Media budaya di Indonesia beberapa kali menyoroti bahwa banyak makanan ekstrem di dunia sebenarnya lahir dari kondisi geografis dan sosial tertentu. Casu Marzu tidak diciptakan untuk mengejutkan dunia, tapi sebagai cara memanfaatkan sumber daya secara maksimal di masa lalu.

Di era sebelum pendingin modern, fermentasi ekstrem adalah salah satu cara untuk memperpanjang umur makanan. Dari situ, lahirlah berbagai produk unik yang kemudian menjadi ciri khas suatu daerah. Casu Mazu adalah salah satunya.

Menariknya, generasi muda di Sardinia punya hubungan yang cukup ambivalen dengan keju ini. Ada yang bangga dan ingin melestarikannya, ada juga yang merasa tradisi ini sulit dipertahankan di era globalisasi. Ini mirip dengan perdebatan kuliner tradisional di Indonesia, ketika generasi muda mulai mempertanyakan relevansi makanan ekstrem atau berbau kuat.

Namun, justru di situlah Casu Marzu mendapatkan sorotan global. Di tengah dunia yang semakin seragam, makanan seperti ini terasa autentik, jujur, dan berani. Ia tidak mencoba menyenangkan semua orang, dan mungkin itu yang membuatnya spesial.

Kontroversi, Regulasi, dan Perdebatan Global

Tidak bisa dipungkiri, Casu Marzu adalah salah satu makanan paling kontroversial di dunia. Banyak negara menganggapnya tidak aman untuk dikonsumsi. Bahkan di tempat asalnya sendiri, keju ini sering berada di luar jalur distribusi resmi.

Media berita Indonesia yang membahas Casu Mazu biasanya menyoroti sisi regulasi ini. Keju tersebut dianggap melanggar standar keamanan pangan modern karena risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan. Namun, hingga kini, belum ada konsensus global yang benar-benar menutup diskusi soal Casu Marzu.

Pendukung Casu Mazu berargumen bahwa larangan ini adalah bentuk penyeragaman budaya. Mereka merasa bahwa standar modern sering kali mengabaikan kearifan lokal. Di sisi lain, pihak yang menentang menekankan pentingnya keselamatan konsumen di era global.

Perdebatan ini sebenarnya lebih luas dari sekadar keju. Ia mencerminkan konflik antara tradisi dan modernitas. Antara warisan budaya dan regulasi global. Dan Casu Marzu menjadi simbol yang sangat kuat dari konflik tersebut.

Menariknya, kontroversi ini justru meningkatkan popularitas Casu Mazu. Banyak wisatawan kuliner tertarik untuk mencobanya, bukan hanya karena rasanya, tapi karena cerita di baliknya. Dalam dunia kuliner modern, cerita sering kali sama pentingnya dengan rasa.

Dan di sinilah Casu Marzu menang. Ia bukan sekadar makanan, tapi pengalaman, bahkan pernyataan sikap.

Casu Marzu dan Fenomena Kuliner Ekstrem di Era Digital

Di era media sosial, makanan ekstrem seperti Casu Marzu mendapatkan panggung yang sangat besar. Foto, video, dan cerita tentang keju ini menyebar luas, memicu reaksi beragam dari netizen di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Banyak konten kreator kuliner membahas Casu Mazu sebagai bentuk eksplorasi batas. Media nasional pun sering mengangkat fenomena ini sebagai bagian dari tren wisata kuliner ekstrem. Ada yang melihatnya sebagai hiburan, ada juga yang menganggapnya edukatif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa selera kuliner generasi sekarang tidak lagi sesederhana dulu. Orang tidak hanya mencari makanan enak, tapi juga pengalaman unik, cerita yang bisa dibagikan, dan sensasi yang berbeda. Casu Marzu memenuhi semua kriteria itu, meski dengan cara yang sangat tidak biasa.

Namun, ada juga kritik terhadap cara Casu Mazu dipopulerkan. Beberapa pengamat kuliner menilai bahwa sensasionalisme sering mengalahkan konteks budaya. Keju ini ditampilkan sebagai “makanan menjijikkan”, tanpa penjelasan mendalam soal sejarah dan maknanya.

Ini jadi pengingat penting, bahwa ketika kita membahas kuliner ekstrem, kita juga membahas budaya orang lain. Menghormati konteks sama pentingnya dengan mengakui perbedaan selera.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesar dari Casu Marzu. Ia mengajarkan kita bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, tapi juga soal identitas, sejarah, dan keberanian untuk berbeda.

Apakah Casu Marzu Layak Dicoba atau Cukup Dikagumi dari Jauh?

Pertanyaan ini sering muncul setiap kali Casu Marzu dibahas. Apakah keju ini benar-benar harus dicoba untuk dipahami, atau cukup dikagumi sebagai fenomena budaya?

Jawabannya sangat subjektif. Tidak semua orang harus menyukai atau mencoba Casu Marzu. Bahkan, tidak mencoba pun bukan berarti tidak menghargainya. Yang terpenting adalah memahami konteks dan menghormati keberadaannya.

Bagi pecinta kuliner ekstrem, Casu Mazu mungkin adalah puncak tantangan. Bagi yang lain, keju ini cukup menjadi pengingat bahwa dunia kuliner sangat luas dan beragam. Tidak semua makanan diciptakan untuk semua orang, dan itu tidak apa-apa.

Media kuliner di Indonesia sering menutup pembahasan tentang Casu Marzu dengan refleksi serupa. Bahwa keberanian kuliner tidak selalu soal mencicipi, tapi juga soal membuka pikiran.

Pada akhirnya, Casu Marzu adalah cerita tentang manusia dan hubungannya dengan makanan. Tentang bagaimana tradisi bertahan di tengah perubahan, dan bagaimana rasa bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Dan ya, meski terdengar ekstrem, Casu Marzu tetap menjadi salah satu ikon paling menarik dalam dunia kuliner global. Mau kamu jijik, penasaran, atau kagum, satu hal pasti, keju ini tidak akan mudah dilupakan.

Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Food

Baca Juga Artikel Terkait Tentang: Ainu Ohaw: Sup Tradisional Sederhana yang Menyimpan, Rasa, dan Filosofi Hidup

Author