JAKARTA, odishanewsinsight.com – Setiap suapan membawa rasa manis yang menyentuh, tapi bubur mutiara lebih dari sekadar hidangan penutup. Di banyak keluarga Indonesia, sajian ini menyimpan kenangan masa kecil, kebersamaan di sore hari, dan kehangatan rumah. Teksturnya kenyal, kuah santannya lembut, dan aroma pandan yang samar menjadikannya tak tergantikan di hati banyak orang.
Tak heran jika di berbagai sudut pasar tradisional, dari Sumatera hingga Papua, bubur mutiara selalu punya tempat di etalase pedagang. Ia hadir di hajatan sederhana hingga acara adat, mencerminkan kekayaan rasa dan budaya yang menyatu dalam satu mangkuk.
Bahan-bahan sederhana yang menyimpan harmoni

Meski terlihat mewah saat disajikan, bubur mutiara sesungguhnya hanya memerlukan bahan-bahan yang bisa ditemukan dengan mudah di dapur rumah. Inilah daya tarik utamanya: kesederhanaan yang tak mengurangi kelezatan.
Bahan utama:
-
Sagu mutiara (warna merah muda biasanya jadi favorit)
-
Gula pasir atau gula aren sesuai selera
-
Daun pandan segar
-
Santan kental dari kelapa tua
-
Garam secukupnya
Banyak keluarga menambahkan sedikit vanili atau potongan pisang kepok rebus sebagai variasi. Namun pada dasarnya, keaslian bubur mutiara tetap bertumpu pada kelembutan mutiara sagu dan kuah santan yang gurih-manis.
Cara membuat bubur mutiara yang lembut dan tidak hancur
Salah satu tantangan terbesar saat membuat bubur mutiara adalah memastikan butiran sagu matang merata tanpa pecah atau menggumpal. Dibutuhkan kesabaran dan teknik yang tepat. Berikut cara memasak yang terbukti berhasil dari generasi ke generasi:
-
Rendam sagu mutiara selama kurang lebih 30 menit agar lebih mudah matang dan tidak mudah pecah saat dimasak.
-
Rebus air hingga mendidih, lalu masukkan sagu secara perlahan sambil terus diaduk agar tidak menempel di dasar panci.
-
Setelah sagu mulai berubah warna, masukkan daun pandan untuk aroma. Rebus selama 15–20 menit sambil sesekali mengaduk.
-
Matikan api, tutup panci dan diamkan selama 15 menit agar sisa mutiara yang masih putih matang dengan sempurna.
-
Di panci terpisah, masak santan dengan sedikit garam. Jangan sampai mendidih agar santan tidak pecah.
-
Sajikan bubur mutiara dengan kuah santan hangat di atasnya. Bisa juga dinikmati dingin sebagai takjil segar.
Cita rasa yang hidup dalam tekstur dan aroma
Yang membuat bubur mutiara begitu digemari bukan hanya rasanya, tapi juga permainan teksturnya. Butiran sagu yang kenyal berpadu dengan santan gurih menciptakan sensasi lembut di mulut. Ada semacam harmoni yang tidak terburu-buru — cocok disantap perlahan sambil menikmati suasana senja atau suara hujan.
Salah satu jurnalis kuliner dari Kompas mengungkapkan bahwa rasa bubur mutiara yang otentik mengingatkan pada konsep “slow food” — makanan yang tidak hanya mengenyangkan tapi juga memelihara emosi.
Jejak budaya dalam semangkuk bubur mutiara
Tidak banyak yang tahu bahwa bubur mutiara punya akar kuat dalam budaya kuliner Nusantara. Di beberapa daerah, makanan ini disajikan saat syukuran atau kelahiran bayi. Di Kalimantan, misalnya, bubur ini kerap hadir dalam upacara adat sebagai simbol manisnya awal kehidupan.
Sagu sendiri adalah bahan pangan lokal yang kaya sejarah. Dikenal sebagai sumber karbohidrat utama di wilayah timur Indonesia, sagu merepresentasikan ketahanan dan kelimpahan. Tak heran jika sajian yang berbahan dasar sagu seperti bubur mutiara dianggap membawa nilai spiritual dalam budaya tertentu.
Variasi modern yang tetap setia pada akar tradisi
Walaupun bubur mutiara klasik tetap jadi favorit, sejumlah kreasi modern mulai bermunculan. Beberapa kafe urban menyajikannya dalam bentuk parfait dengan tambahan whipped cream atau potongan buah tropis. Bahkan ada yang menghidangkannya bersama matcha atau kopi sebagai sentuhan fusion Asia kontemporer.
Namun, di tengah eksperimen tersebut, tetap ada garis merah yang dijaga: mutiara harus kenyal, santan harus gurih, dan aroma pandan harus terasa. Kreativitas boleh menjelajah, tapi akar rasa tetap jadi fondasi.
Pengalaman menyantap yang personal
Di sebuah rumah sederhana di Yogyakarta, seorang ibu rumah tangga bernama Bu Sri masih rutin membuat bubur mutiara setiap Jumat sore. Ia percaya makanan ini bukan hanya untuk perut, tapi juga untuk menyatukan keluarga. “Kalau anak-anak pulang kerja dan lihat ada bubur ini di meja, mereka langsung duduk bareng. Nggak perlu dipanggil,” ujarnya sambil tersenyum.
Cerita-cerita seperti inilah yang menjaga bubur mutiara tetap hidup — bukan sekadar sebagai makanan, tapi sebagai medium kebersamaan.
Penutup Bubur Mutiara yang manis dalam tradisi yang lestari
Bubur mutiara adalah bukti bahwa makanan tradisional bisa bertahan di tengah gempuran tren kuliner modern. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana tapi menyimpan kedalaman rasa, cerita, dan kenangan.
Membuatnya bukan hanya soal memasak, tapi juga merawat warisan. Dan ketika sendok pertama masuk ke mulut, yang terasa bukan cuma rasa manis, tapi juga nostalgia, kehangatan, dan cinta dari generasi ke generasi.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food
Baca juga artikel lainnya: Zaru Soba: Sensasi Mi Dingin Autentik Khas Jepang
