JAKARTA, odishanewsinsight.com – Di pagi yang gerimis atau sore menjelang senja, tak sedikit orang mencari sesuatu yang hangat, ringan, dan mengenyangkan. Di sinilah bubur sumsum hadir sebagai jawaban klasik yang selalu bisa diandalkan. Teksturnya yang lembut, kuah gula merah yang manis, dan aroma santan yang kaya—semuanya membawa nostalgia, bahkan bagi mereka yang jarang bersentuhan langsung dengan dapur nenek.
Bubur sumsum bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan. Ada kehangatan di setiap sendoknya, ada cerita yang terselip dalam setiap penyajiannya.
Bahan utama bubur sumsum yang sederhana tapi istimewa

Satu hal yang membuat bubur sumsum dicintai lintas generasi adalah kesederhanaan bahannya. Tak perlu belanja ke toko impor atau mencari bahan eksotis. Semua bisa didapat dari pasar tradisional, bahkan dari warung terdekat.
Bahan utama bubur:
-
Tepung beras
-
Santan kental
-
Garam
Bahan kuah gula:
-
Gula merah atau gula aren
-
Daun pandan
-
Air
Yang menarik, beberapa variasi kini menambahkan sedikit vanili, wijen, atau taburan kelapa parut untuk memperkaya rasa tanpa mengubah esensi.
Cara membuat bubur sumsum yang autentik dan lembut
Meski terlihat simpel, proses membuat bubur sumsum memerlukan perhatian khusus pada tekstur dan kekentalan. Terlalu encer, jadi lari. Terlalu kental, jadi padat.
Berikut langkah umum pembuatannya:
-
Campurkan tepung beras dengan sedikit air dan aduk rata agar tidak menggumpal.
-
Rebus santan bersama garam dan daun pandan sambil terus diaduk agar santan tidak pecah.
-
Masukkan larutan tepung beras ke dalam rebusan santan, aduk terus hingga mengental dan matang.
-
Untuk kuah gula, rebus gula merah bersama air dan daun pandan hingga larut, lalu saring.
-
Sajikan bubur dengan siraman kuah gula di atasnya.
Versi modern kadang memadukan bubur sumsum dengan topping boba, kacang merah, hingga cincau—membuatnya lebih kekinian tanpa kehilangan ruh tradisionalnya.
Cita rasa bubur sumsum yang halus dan menenangkan
Jika bubur ayam identik dengan sarapan, bubur sumsum lebih sering jadi teman di kala santai. Tekstur halus dari tepung beras yang lembut menyatu sempurna dengan gurih santan. Saat kuah gula merah menyusup ke sela-sela bubur, tercipta keseimbangan antara manis, gurih, dan aroma alami dari daun pandan.
Tak heran jika banyak orang menyebut bubur sumsum sebagai “comfort food” sejati. Makanan ini bukan cuma soal rasa, tapi juga perasaan. Ada kesederhanaan yang justru menghangatkan hati.
Bubur sumsum dalam konteks budaya Indonesia
Bubur sumsum tak bisa dilepaskan dari akar budaya Jawa dan berbagai daerah lain di Indonesia. Ia sering hadir dalam ritual tradisional, seperti:
-
Selamatan tujuh bulanan
-
Syukuran rumah baru
-
Perayaan kecil di desa
Dalam konteks tersebut, bubursumsum dipercaya sebagai simbol doa, kesederhanaan, dan harapan baik. Warna putihnya melambangkan kesucian, dan penyajiannya yang sederhana menunjukkan keikhlasan.
Di beberapa daerah, bubursumsum juga dikenal dengan nama lain seperti bubur lemu atau jenang putih, meski bahan dasarnya tetap sama.
Peran bubursumsum dalam tren kuliner modern
Menariknya, kini bubur sumsum tak hanya disajikan dalam piring atau mangkuk warung. Ia hadir di:
-
Kedai kopi kekinian dengan topping es krim atau boba
-
Bento box makanan tradisional
-
Menu dessert hotel bintang lima dengan plating artistik
Kombinasi antara nilai tradisi dan sentuhan modern membuat bubursumsum tetap relevan di era kuliner global. Generasi muda pun mulai mengenalnya kembali, baik melalui warung pinggir jalan maupun konten food vlogger.
Tips menyajikan bubur sumsum yang menggugah selera
Bagi kamu yang ingin mencoba membuat atau menyajikan bubur sumsum sendiri, berikut tips praktisnya:
-
Gunakan santan kental dari perasan pertama agar rasa lebih gurih alami.
-
Pastikan larutan tepung tidak menggumpal, aduk rata sebelum dimasukkan ke santan panas.
-
Jangan terlalu banyak air saat membuat kuah gula agar tidak encer.
-
Tambahkan daun pandan segar untuk meningkatkan aroma tradisional.
-
Sajikan dalam kondisi hangat, atau dinginkan untuk varian dessert segar.
Untuk variasi modern, bisa juga ditambahkan potongan pisang, ketan hitam, atau kolang-kaling sebagai topping.
Penutup: bubursumsum adalah jejak rasa, warisan yang hidup
Bubur sumsum adalah bukti bahwa makanan tidak harus rumit untuk bermakna. Dalam kesederhanaannya, ia membawa rasa, kenangan, dan nilai budaya yang kaya. Ia mengingatkan bahwa kadang, yang paling mengenyangkan bukan hanya isi piring, tapi juga cerita di baliknya.
Dan selama masih ada dapur yang menanak santan dan tangan yang sabar mengaduk tepung, bubursumsum akan tetap hadir sebagai salah satu ikon rasa tradisional Indonesia yang tak lekang waktu.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food
Baca juga artikel lainnya: Bubur Mutiara: resep tradisional dan cita rasa khas
