Sat. Jan 17th, 2026
Cronut

JAKARTA, odishanewsinisgt.com  —   Pertama kali gue kenal cronut itu bukan dari dapur fancy atau restoran mahal, tapi dari obrolan santai temen yang bilang, “Lo harus coba ini, rasanya aneh tapi enak.” Dari situ rasa penasaran gue langsung naik level. Begitu gue pegang, tampilannya mirip donat, tapi lapisan luarnya jelas beda. Ada kesan flaky kayak croissant yang kelihatan rapuh tapi menggoda.

Pas gigitan pertama, jujur gue sempat bengong. Di luar renyah dan berlapis, di dalamnya empuk dan sedikit chewy. Rasanya tuh kayak dua dunia kuliner ketabrak tapi malah akur. Manisnya nggak lebay, menteganya kerasa, dan aftertaste-nya bikin gue pengin nyeruput kopi panas biar makin mantap. Dari situ gue sadar, cronut bukan sekadar tren, tapi pengalaman makan yang beda.

Cronut Itu Apa Sih dan Kenapa Bisa Jadi Viral

Kalau ngomongin asal-usul, cronut itu sebenernya gabungan teknik bikin croissant dan donat. Adonannya dilipat berkali-kali pake mentega, kayak croissant klasik, tapi proses akhirnya digoreng kayak donat. Nah, dari proses itu lahirlah tekstur yang bikin cronut punya identitas sendiri.

Kenapa bisa viral? Menurut gue, karena cronut itu menjawab rasa bosan. Donat udah terlalu umum, croissant juga sering kita temuin. Tapi pas dua-duanya digabung, boom, orang langsung penasaran. Media sosial juga punya peran gede. Begitu satu orang upload potongan cronut yang flaky dan meleleh di dalam, langsung deh banyak yang ikutan nyari.

Pengalaman Gue Nyicipin Berbagai Varian Rasa

Gue nggak berhenti di satu cronut doang. Dari satu toko ke toko lain, gue nyobain macem-macem varian. Ada yang isinya krim vanila, cokelat, matcha, sampai rasa lokal kayak gula aren. Favorit gue tetep yang klasik dengan gula halus di atasnya, karena rasa mentega dan adonannya lebih kerasa.

Yang menarik, tiap tempat punya ciri khas sendiri. Ada cronut yang fokus ke tekstur super renyah, ada juga yang lebih lembut dan buttery. Dari situ gue belajar, cronut itu bukan soal topping doang, tapi soal teknik dan keseimbangan rasa. Kalau salah dikit, bisa terlalu berminyak atau malah keras.

Cronut dalam Dunia Kuliner Kekinian

Sekarang cronut udah jadi simbol kreativitas di dunia pastry. Banyak baker yang terinspirasi buat bikin versi mereka sendiri. Ada yang bikin mini cronut, ada juga yang bikin versi gurih dengan isian keju dan daging asap. Menurut gue ini bukti kalau cronut bukan tren sesaat.

Cronut

Di dunia kuliner kekinian, cronut punya posisi unik. Dia bisa masuk ke kafe fancy, tapi juga cocok dijual di bakery kecil. Harganya emang cenderung lebih mahal dari donat biasa, tapi sebanding sama proses dan rasa yang lo dapet.

Tips Menikmati Biar Rasanya Makin Nikmat

Dari pengalaman gue, cronut paling enak dimakan fresh. Jangan kebanyakan mikir buat disimpan lama, karena tekstur renyahnya bisa berkurang. Pasangan terbaiknya jelas kopi hitam atau teh tanpa gula. Kombinasi pahit dan manisnya pas banget.

Kalau lo baru pertama kali nyoba, gue saranin mulai dari rasa original. Dari situ baru eksplor varian lain. Dengan begitu, lo bisa bener-bener ngerasain karakter asli cronut tanpa ketutupan topping berlebihan.

Cronut Lebih dari Sekadar Tren Kuliner

Buat gue, cronut bukan cuma camilan viral yang numpang lewat. Dia adalah bukti kalau eksperimen di dapur bisa menghasilkan sesuatu yang memorable. Dari tekstur, rasa, sampai pengalaman makannya, punya cerita sendiri. Kalau lo ngaku pecinta kuliner dan belum pernah nyoba cronut, jujur aja, lo ketinggalan satu pengalaman seru yang layak banget buat dicicipin.

Gue juga sempat ngobrol sama salah satu baker lokal yang bikin secara handmade. Dari situ gue makin paham kenapa harga cronut nggak bisa disamain sama donat biasa. Proses lipat adonan yang makan waktu, kontrol suhu, sampai teknik goreng yang harus presisi, semuanya butuh pengalaman. Sekali salah langkah, hasilnya bisa jauh dari ekspektasi.

Catatan Tambahan dari Perjalanan Kuliner Gue

Kalau ditarik lebih jauh, pengalaman makan cronut itu bukan cuma soal rasa di lidah, tapi juga soal suasana. Ada momen di mana gue makan sambil duduk santai di kafe kecil, ada juga yang gue bungkus dan dimakan di mobil sambil ngejar waktu. Anehnya, di berbagai kondisi itu, tetap punya daya tarik yang sama. Dia selalu berhasil bikin gue berhenti sejenak dan fokus menikmati setiap gigitan.

Buat lo yang doyan eksplor kuliner, cronut itu kayak pintu masuk ke dunia pastry yang lebih luas. Dari satu camilan ini, lo bisa mulai kenal berbagai teknik, bahan, dan filosofi di balik pastry modern. Jadi menurut gue, makan itu bukan cuma soal kenyang, tapi juga soal belajar dan menikmati proses kreatif di baliknya.

Pada akhirnya, cronut ngajarin gue satu hal sederhana. Kuliner yang baik itu nggak harus ribet, tapi harus jujur sama rasa dan niat. Selama dibuat dengan hati dan dinikmati dengan santai, akan selalu punya tempat di daftar camilan favorit gue.

Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang  food

Baca juga artikel menarik lainnya mengenai Bao Buns—Kelezatan Roti Kukus Khas Asia yang Mendunia

Author