Sun. Jan 18th, 2026
Wedang Tahwa

JAKARTA, odishanewsinsight.com – Kala gerimis turun di sore hari dan angin lembut menampar pelipis, tak ada yang lebih menghangatkan selain semangkuk Wedang Tahwa. Di banyak sudut kota di Jawa, terutama Semarang dan Solo, minuman ini masih jadi pilihan klasik untuk mereka yang ingin memanjakan lidah dan meredakan dingin dalam satu tegukan.

Wedang Tahwa berasal dari budaya Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya Jawa sejak berabad-abad silam. Terbuat dari lapisan lembut seperti puding yang disebut tahwa atau tofu lembut, lalu disiram dengan kuah jahe hangat manis yang khas, minuman ini bukan hanya menghangatkan tubuh, tapi juga menyimpan cerita sejarah dan akulturasi budaya.

Bahan-bahan Wedang Tahwa yang Sederhana tapi Bermakna

Wedang Tahwa

Yang menarik dari Wedang Tahwa adalah betapa sederhananya bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan cita rasa sedalam itu.

Bahan untuk tahwa:

  • Susu kedelai murni segar

  • Agar-agar bubuk tanpa rasa (pengganti tradisional larutan gipsum)

  • Sedikit air matang

Bahan kuah jahe:

  • Jahe merah, digeprek

  • Daun pandan

  • Gula merah atau gula batu

  • Air secukupnya

Di beberapa versi tradisional, pembuat tahwa masih menggunakan larutan gipsum untuk mengentalkan susu kedelai. Namun, karena alasan keamanan pangan dan ketersediaan, agar-agar sering jadi alternatif modern.

Cara Membuat Wedang Tahwa di Rumah

Membuat Wedang Tahwa tidak memerlukan keahlian tinggi, hanya ketelatenan dan kesabaran. Prosesnya bisa menjadi pengalaman meditasi sendiri bagi mereka yang menyukai memasak dengan hati.

Langkah membuat tahwa:

  1. Panaskan susu kedelai hingga mendidih.

  2. Larutkan agar-agar bubuk dalam air panas, lalu campurkan ke susu kedelai mendidih sambil terus diaduk.

  3. Tuang ke wadah, biarkan mengeras dan dingin. Teksturnya harus lembut dan nyaris pecah saat disendok.

Langkah membuat kuah:

  1. Rebus air bersama jahe yang telah digeprek dan daun pandan.

  2. Masukkan gula merah dan tunggu larut sepenuhnya.

  3. Saring sebelum disajikan agar kuah terasa bersih dan harum.

Penyajian dilakukan dengan mengiris tipis tahwa menggunakan sendok logam khusus atau sendok besar, lalu disiram kuah jahe panas. Sensasi pertama saat menyendokkan ke mulut adalah kombinasi rasa hangat, manis, dan tekstur lembut yang nyaris meleleh.

Cita Rasa yang Tak Sekadar Manis

Cita rasa Wedang Tahwa tak bisa disamakan dengan sekadar tahu manis atau sekadar jahe hangat. Ia hadir sebagai harmoni — antara kelembutan tahu yang netral dan kuah jahe manis pedas yang menyengat lembut.

Bagi banyak orang, tahwa membawa kenangan masa kecil. Ada yang mengingat suara tukang tahwa sore-sore dengan gerobak khasnya. Ada pula yang baru mengenalnya di festival kuliner atau warung-warung modern yang mencoba menghidupkan kembali menu-menu tradisional.

Kuahnya yang mengandung jahe punya khasiat menenangkan perut dan melancarkan peredaran darah. Itu sebabnya, minuman ini sering dikonsumsi saat tubuh merasa letih atau cuaca tak bersahabat.

Asal-usul dan Jejak Budaya di Setiap Sendokannya

Menurut berbagai literatur kuliner, tahwa berasal dari tradisi Tionghoa dengan nama asli douhua atau tofu pudding. Di Indonesia, minuman ini berkembang dalam konteks lokal, menyatu dengan budaya Jawa dan diberi sentuhan seperti penggunaan gula merah dan pandan.

Di kawasan Pecinan Semarang atau Solo, Wedang Tahwa biasa dijajakan oleh keturunan Tionghoa generasi ke-2 atau ke-3 yang tetap melestarikan resep nenek moyang mereka. Menariknya, beberapa varian modern kini menambahkan topping seperti kacang tanah sangrai, biji wijen, hingga bola mochi kecil.

Namun, di balik variasi modern itu, esensi Wedang Tahwa tetap satu: hangat, lembut, dan membawa rasa nyaman yang khas.

Pengalaman Menyantap yang Menenangkan Wedang Tahwa

Seorang jurnalis kuliner dari media nasional sempat menuliskan pengalaman menyantap Wedang Tahwa di kawasan Pasar Semawis, Semarang. Ia menyebut bahwa menyendok tahwa terasa seperti menyentuh kenangan yang bisa dimakan.

“Setiap suapan punya ritme sendiri. Hangat di tenggorokan, lembut di lidah, manisnya tidak berlebihan. Rasanya seperti pelukan hangat dari seseorang yang lama tak bertemu,” tulisnya.

Pengalaman menyantap tahwa memang sangat personal. Ia bukan makanan yang dikejar karena tren, tapi karena rasa rindu.

Budaya Minum Wedang yang Masih Hidup

Meskipun tren minuman kekinian terus berkembang, dari boba sampai dalgona, Wedang Tahwa tetap punya tempat. Beberapa kafe indie bahkan mulai menyajikan minuman ini dalam kemasan estetik dengan twist seperti tambahan jahe bakar atau susu evaporasi.

Di sisi lain, warung tradisional tetap mempertahankan versi aslinya — disajikan hangat dalam mangkuk keramik sederhana. Tak ada yang berlebihan, tapi justru itu yang membuatnya bertahan.

Komunitas pecinta kuliner tradisional di media sosial pun aktif membagikan resep dan tempat rekomendasi wedang tahwa terenak di kota mereka. Dari Bandung, Yogyakarta, hingga Medan, tahwa hidup kembali dalam berbagai bentuk, tetap dengan rasa yang memeluk.

Penutup: Wedang Tahwa Lebih dari Sekadar Minuman

Wedang Tahwa bukan hanya tentang kedelai dan jahe. Ia adalah cerita tentang akulturasi, kehangatan, dan kejujuran rasa. Di tengah gempuran minuman modern dengan topping berlapis dan harga tinggi, wedang tahwa hadir sebagai pengingat bahwa kelezatan bisa datang dari hal-hal yang paling sederhana.

Dan mungkin, dalam semangkuk tahwa yang mengepul, terselip kehangatan kecil yang dibutuhkan manusia modern — untuk jeda, untuk mengenang, dan untuk menikmati rasa yang tak lekang.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food

Baca juga artikel lainnya: Bubur Sumsum: Sajian Lembut dengan Cita Rasa Tradisional

Author

By siti