JAKARTA, odishanewsinsight.com – Ketika udara mulai dingin dan tubuh mendambakan kehangatan, tak ada yang lebih menggoda selain semangkuk Kimchi Jjigae yang mengepul panas di atas meja makan. Rebusan pedas khas Korea ini bukan sekadar menu favorit musim dingin, tapi juga representasi dari warisan kuliner yang menyatu dengan ritme kehidupan masyarakat Korea.
Kimchi Jjigae, atau sup kimchi, telah lama menjadi makanan pokok sehari-hari yang hadir dalam berbagai versi, tergantung bahan yang tersedia di dapur rumah. Tapi satu hal yang tak berubah: ledakan rasa pedas, asam, gurih, dan umami yang menyatu dalam kuah merah menyala.
Bahan yang Membentuk Kepribadian Kimchi Jjigae

Rahasia utama kelezatan Kimchi Jjigae terletak pada penggunaan kimchi yang sudah difermentasi lama. Kimchi matang menghadirkan rasa asam dan tajam yang menyatu sempurna dengan kuah kaldu.
Berikut bahan utama yang umum digunakan:
-
Kimchi matang (lebih dari dua minggu)
-
Daging babi atau tuna kaleng (bisa diganti ayam atau jamur untuk versi halal/vegetarian)
-
Tahu putih yang dipotong dadu
-
Bawang bombay dan bawang putih
-
Gochugaru (serpih cabai Korea)
-
Gochujang (pasta cabai fermentasi)
-
Minyak wijen dan kecap asin
-
Kaldu dashi atau air rebusan tulang
Beberapa keluarga juga menambahkan jamur enoki, zucchini, atau bihun agar lebih mengenyangkan. Yang menarik, Kimchi Jjigae bukanlah resep kaku. Ia tumbuh dari kreativitas rumahan yang disesuaikan dengan isi kulkas.
Cara Membuat Kimchi Jjigae yang Otentik
Memasak Kimchi Jjigae tidak membutuhkan keahlian khusus, tapi perlu ketelitian agar rasa kimchi tidak terlalu dominan atau justru terlalu hambar. Berikut proses dasar yang sering dipraktikkan di dapur Korea:
-
Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan minyak wijen hingga harum. Tambahkan daging, masak hingga berubah warna.
-
Masukkan kimchi matang bersama sedikit air kimchi (jus fermentasi). Tumis sebentar agar aroma keluar.
-
Tambahkan gochujang dan gochugaru, lalu tuang kaldu hingga semua bahan terendam.
-
Didihkan dengan api sedang, biarkan selama 15–20 menit hingga kuah mengental dan kimchi layu.
-
Masukkan tahu, lalu kecilkan api dan masak lagi 5–7 menit agar rasa meresap.
-
Koreksi rasa dengan kecap asin atau sedikit gula bila terlalu asam. Sajikan panas-panas.
Meski tampak sederhana, keseimbangan rasa Kimchi Jjigae bergantung pada kualitas kimchi dan durasi perebusan. Kuah yang terlalu cepat dimasak cenderung flat, sementara yang dimasak sabar akan mengeluarkan rasa umami yang kaya.
Cita Rasa dan Sensasi Menyantap KimchiJjigae
Setiap suapan Kimchi Jjigae menyuguhkan spektrum rasa: pedas yang langsung menggigit, asam yang menyegarkan, gurih dari daging, dan lembut dari tahu. Kombinasi ini menciptakan sensasi hangat yang menyebar dari lidah hingga ke dada, cocok disantap di malam hujan atau saat cuaca dingin menusuk tulang.
Seorang penulis kuliner dari media Korea menyebut Kimchi Jjigae sebagai “comfort food dalam bentuk paling jujur.” Ini bukan makanan mewah, melainkan pelukan hangat dari rumah yang dituangkan dalam mangkuk.
Tak heran jika banyak orang Korea menjadikan KimchiJjigae sebagai menu harian. Di rumah sederhana Seoul, semangkuk KimchiJjigae sering hadir di tengah meja bersama nasi hangat dan beberapa lauk pendamping seperti ikan goreng atau telur dadar.
Asal-Usul dan Budaya di Balik Kimchi Jjigae
Secara historis, Kimchi Jjigae berkembang pasca-Korean War ketika bahan makanan terbatas. Masyarakat memanfaatkan kimchi lama dan bahan seadanya untuk menciptakan sup sederhana namun mengenyangkan. Seiring waktu, menu ini menyebar ke seluruh negeri, bahkan menjadi ikon restoran rumahan atau warung pinggir jalan.
Kimchi sendiri telah ada sejak abad ke-7, namun Kimchi Jjigae diperkirakan populer sejak abad ke-20 ketika urbanisasi membuat gaya hidup lebih cepat dan praktis.
Kini, Kimchi Jjigae juga menjelma menjadi simbol identitas nasional. Di banyak serial K-drama, adegan makan Kimchi Jjigae kerap muncul untuk menggambarkan keintiman keluarga, percakapan berat, atau momen perenungan. Rebusan ini tak hanya memuaskan perut, tapi juga mengikat emosi dan kenangan.
KimchiJjigae dan Adaptasi Global
Meski berasal dari Korea, Kimchi Jjigae kini mendunia. Di Indonesia, banyak restoran Korea memasukkannya ke dalam menu utama, bahkan tersedia versi halal tanpa babi. Di beberapa tempat, kaldu diganti dengan jamur shitake atau rumput laut untuk menjaga cita rasa umami tanpa mengandung hewani.
Adaptasi ini membuktikan bahwa rasa otentik bisa tetap dijaga sambil disesuaikan dengan preferensi lokal. Beberapa chef Indonesia bahkan memadukan KimchiJjigae dengan nasi goreng atau sambal terasi untuk menciptakan rasa fusion yang unik.
Namun, tetap saja, versi klasik dengan nasi putih dan side dish sederhana tetap menjadi pilihan utama banyak penggemar makanan Korea. Rebusan yang tampak sederhana ini justru menawarkan kedalaman rasa yang sering tidak dimiliki oleh makanan mewah sekalipun.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food
Baca juga artikel lainnya: Aji De Gallina: Resep dan Keistimewaan Hidangan Khas Peru
