Sat. Jan 17th, 2026
Pantua

JAKARTA, odishanewsinsight.com – Dunia kuliner Nusantara dan Asia Selatan menyimpan begitu banyak harta karun berupa kudapan manis yang menggugah selera. Salah satu yang paling memikat perhatian pecinta makanan tradisional adalah Pantua, kue bulat kecil berwarna cokelat keemasan yang direndam dalam larutan gula manis. Setiap gigitan menghadirkan sensasi lumer di mulut yang sulit dilupakan.

Bagi sebagian orang Indonesia, camilan ini mungkin terdengar asing dibandingkan kue tradisional lainnya. Namun di kalangan masyarakat keturunan Bengal dan India, kudapan manis ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan dan momen spesial. Kehadirannya di meja hidangan selalu disambut antusias oleh semua kalangan usia.

Popularitas Pantua kini mulai merambah ke berbagai daerah di Indonesia berkat penyebaran budaya kuliner melalui media sosial. Para food blogger dan kreator konten kuliner turut andil memperkenalkan kelezatan camilan legendaris ini kepada audiens yang lebih luas. Hasilnya, semakin banyak orang penasaran dan ingin mencoba membuatnya sendiri di dapur rumah.

Mengenal Asal Usul Kue Pantua dari Tanah Bengal

Pantua

Sejarah mencatat bahwa kudapan manis berbentuk bulat ini berasal dari wilayah Bengal yang kini terbagi menjadi Bangladesh dan negara bagian Bengal Barat di India. Dalam tradisi Bengali, Pantua memiliki kedudukan istimewa sebagai hidangan penutup yang wajib hadir di berbagai perayaan keagamaan dan pernikahan. Konon resepnya sudah diwariskan turun temurun selama ratusan tahun.

Nama Pantua sendiri berasal dari bahasa Bengali yang merujuk pada bentuk bulat menyerupai buah kecil. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Ledikeni sebagai penghormatan kepada Lady Canning, istri Gubernur Jenderal India pada era kolonial Inggris. Kisah ini menambah daya tarik historis yang melekat pada camilan tradisional tersebut.

Perjalanan kudapan ini ke Indonesia terjadi seiring dengan migrasi masyarakat Bengal dan India ke berbagai kota pelabuhan Nusantara. Pedagang dan pekerja dari anak benua India membawa serta tradisi kuliner mereka termasuk resep kue manis yang kini bisa dinikmati di berbagai sudut Indonesia.

Bahan Bahan Utama untuk Membuat Pantua di Rumah

Keistimewaan camilan tradisional ini terletak pada kesederhanaan bahan yang digunakan. Tidak diperlukan bahan bahan eksotis atau sulit ditemukan untuk menghasilkan kudapan manis yang autentik. Semua bahan bisa dengan mudah diperoleh di pasar tradisional maupun supermarket terdekat.

Komponen utama dalam pembuatan adonan adalah susu bubuk atau khoya yang memberikan tekstur lembut khas. Tepung terigu dan sedikit semolina ditambahkan untuk memberikan struktur yang kokoh namun tetap empuk saat digigit. Penggunaan baking powder dalam jumlah tepat memastikan adonan mengembang sempurna saat digoreng.

Berikut daftar bahan yang perlu disiapkan:

  • 200 gram susu bubuk full cream
  • 50 gram tepung terigu serbaguna
  • 25 gram semolina halus
  • Setengah sendok teh baking powder
  • 2 sendok makan ghee atau mentega cair
  • Susu cair secukupnya untuk menguleni
  • 400 gram gula pasir untuk sirup
  • 500 ml air untuk sirup
  • 4 butir kapulaga hijau
  • Beberapa helai saffron opsional

Proses Pembuatan Sirup Gula yang Sempurna

Sebelum memulai pengerjaan adonan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan sirup gula. Larutan manis ini menjadi elemen krusial yang memberikan cita rasa khas pada Pantua. Kualitas sirup sangat menentukan hasil akhir kudapan yang dihasilkan.

Masukkan gula pasir dan air ke dalam panci berukuran sedang kemudian nyalakan api sedang. Aduk perlahan hingga seluruh kristal gula larut sempurna tanpa ada yang tersisa di dasar panci. Tambahkan kapulaga yang sudah dimemarkan untuk memberikan aroma harum yang menggoda.

Biarkan sirup mendidih selama beberapa menit hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Sirup tidak boleh terlalu kental karena akan sulit meresap ke dalam kue, namun juga tidak boleh terlalu encer karena rasa manisnya tidak akan optimal. Matikan api dan sisihkan sirup dalam kondisi hangat.

Teknik Menguleni Adonan Kue Bulat Manis Tradisional

Tahap pengulenan adonan membutuhkan ketelitian dan kesabaran untuk mendapatkan tekstur yang tepat. Campurkan susu bubuk, tepung terigu, semolina, dan baking powder dalam wadah besar. Aduk rata menggunakan spatula atau tangan hingga semua bahan tercampur merata tanpa ada gumpalan.

Tambahkan ghee atau mentega cair ke dalam campuran kering tersebut. Ghee memberikan aroma gurih khas yang menjadi ciri pembeda Pantua dengan kue serupa dari budaya lain. Jika tidak memiliki ghee, mentega tawar bisa menjadi pengganti meskipun aromanya sedikit berbeda.

Tuangkan susu cair sedikit demi sedikit sambil terus menguleni adonan. Jangan menambahkan semua cairan sekaligus karena bisa membuat adonan terlalu lembek. Adonan yang ideal memiliki tekstur lembut, tidak lengket di tangan, dan mudah dibentuk menjadi bulatan kecil.

Cara Membentuk dan Menggoreng Pantua dengan Benar

Setelah adonan siap, saatnya membentuk bulatan bulatan kecil yang akan digoreng. Ambil sejumput adonan kira kira sebesar kelereng besar kemudian bulatkan dengan kedua telapak tangan. Pastikan permukaan bulatan halus tanpa retakan karena retakan akan membuat kue pecah saat digoreng.

Panaskan minyak goreng dalam wajan yang cukup dalam dengan api kecil hingga sedang. Penggunaan api besar sangat tidak disarankan karena akan membuat bagian luar kue gosong sementara bagian dalam masih mentah. Kesabaran dalam proses penggorengan menjadi kunci keberhasilan.

Langkah menggoreng yang tepat:

  1. Pastikan minyak sudah cukup panas dengan meneteskan sedikit adonan
  2. Masukkan bulatan adonan perlahan ke dalam minyak
  3. Goreng dalam jumlah sedikit agar suhu minyak tetap stabil
  4. Aduk perlahan dan balik kue agar matang merata
  5. Goreng hingga berwarna cokelat keemasan selama 8 hingga 10 menit
  6. Angkat dan tiriskan sebentar sebelum direndam dalam sirup

Proses Perendaman dalam Sirup Gula Aromatik

Tahap perendaman merupakan momen krusial yang menentukan kelezatan akhir Pantua. Kue yang baru digoreng harus langsung dimasukkan ke dalam sirup selagi masih panas. Perbedaan suhu antara kue panas dan sirup hangat membantu proses penyerapan berjalan optimal.

Biarkan kue terendam dalam sirup minimal selama dua jam atau lebih baik semalaman untuk hasil maksimal. Selama proses ini, sirup akan meresap ke dalam setiap pori kue menciptakan sensasi juicy yang menjadi ciri khas camilan tradisional Bengal. Sesekali balik kue agar penyerapan merata di seluruh bagian.

Penyimpanan Pantua yang sudah jadi sebaiknya tetap dalam sirup di wadah tertutup. Kudapan ini bisa bertahan hingga satu minggu dalam suhu ruangan atau lebih lama jika disimpan di lemari pendingin. Hangatkan sebentar sebelum disajikan untuk mengembalikan tekstur dan aroma terbaiknya.

Cita Rasa Pantua yang Memikat Lidah Pencinta Kuliner

Menggigit sepotong kue bulat manis ini menghadirkan pengalaman kuliner yang sulit dilukiskan dengan kata kata. Lapisan luar yang sedikit kenyal langsung meleleh di mulut berpadu dengan bagian dalam yang lembut berpori. Semburan sirup gula manis menyeruak di setiap gigitan menciptakan harmoni rasa yang memanjakan lidah.

Aroma kapulaga yang harum menjadi pembeda utama Pantua dengan kudapan manis lainnya. Rempah khas Asia Selatan ini memberikan sentuhan eksotis yang tidak ditemukan pada kue tradisional Indonesia pada umumnya. Bagi yang menambahkan saffron, akan ada nuansa mewah tambahan yang semakin memperkaya pengalaman menyantap.

Tekstur Pantua yang ideal adalah lembut dan spongy di bagian dalam namun tetap memiliki sedikit kepadatan di lapisan luar. Kue tidak boleh terlalu keras karena menandakan adonan kurang tepat atau penggorengan terlalu lama. Sebaliknya kue yang terlalu lembek menunjukkan sirup terlalu encer atau perendaman terlalu singkat.

Tips Sukses Membuat Kue Tradisional Bengal di Dapur Rumah

Bagi pemula yang baru pertama kali mencoba membuat Pantua, beberapa tips berikut akan sangat membantu. Kesalahan kecil dalam proses pembuatan bisa berdampak signifikan pada hasil akhir sehingga pemahaman detail teknis sangat diperlukan.

Pemilihan susu bubuk sangat berpengaruh pada tekstur akhir kue. Gunakan susu bubuk full cream berkualitas baik untuk mendapatkan kelembutan optimal. Susu bubuk skim atau rendah lemak akan menghasilkan tekstur yang lebih keras dan kurang memuaskan.

Beberapa tips penting yang perlu diperhatikan:

  • Jangan terlalu banyak menguleni adonan karena akan membuat kue keras
  • Pastikan tidak ada retakan pada bulatan sebelum digoreng
  • Gunakan api kecil dan sabar selama proses penggorengan
  • Sirup harus dalam kondisi hangat saat menerima kue panas
  • Biarkan kue terendam cukup lama untuk penyerapan maksimal
  • Simpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi

Variasi Modern Sajian Pantua Kekinian

Seiring perkembangan zaman, para kreator kuliner mulai bereksperimen dengan berbagai variasi Pantua yang lebih kekinian. Beberapa menambahkan topping kacang cincang atau kelapa parut di atas kue untuk tekstur tambahan. Ada pula yang menyajikannya bersama es krim vanilla menciptakan perpaduan hangat dan dingin yang menarik.

Modifikasi pada sirup juga menjadi arena kreativitas yang menarik. Penambahan air mawar atau kewra water memberikan aroma floral yang lebih kompleks. Beberapa versi modern bahkan menggunakan sirup dengan perasa cokelat atau karamel untuk menarik minat generasi muda.

Penyajian Pantua di restoran dan kafe kekinian juga mengalami transformasi visual. Kue tradisional ini kini hadir dengan plating artistik dilengkapi saus dan garnish cantik. Meskipun tampilannya berubah modern, esensi rasa autentik tetap dipertahankan untuk menghormati warisan kuliner leluhur.

Pantua dalam Tradisi Perayaan Masyarakat Bengal

Dalam budaya Bengal, kudapan manis berbentuk bulat ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Kehadirannya di meja hidangan dianggap membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi tuan rumah. Tidak heran jika setiap perayaan besar selalu menyertakan Pantua sebagai hidangan wajib yang tidak boleh absen.

Festival Durga Puja menjadi momen paling meriah di mana kudapan tradisional ini diproduksi dalam jumlah besar. Setiap rumah tangga Bengali berlomba menyajikan kue buatan sendiri untuk dijamu kepada tamu dan kerabat. Tradisi berbagi makanan manis ini menjadi simbol kebersamaan dan kasih sayang antar sesama.

Pernikahan adat Bengal juga tidak lengkap tanpa kehadiran camilan legendaris ini di deretan hidangan penutup. Pengantin baru biasanya saling menyuapi Pantua sebagai simbol harapan kehidupan rumah tangga yang manis dan harmonis. Tradisi indah ini terus dijaga hingga generasi sekarang.

Kesimpulan

Pantua hadir sebagai bukti kekayaan kuliner Asia Selatan yang berhasil menembus batas geografis dan budaya. Kue bulat manis dengan siraman sirup gula aromatik ini menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda dari kudapan tradisional Indonesia pada umumnya. Proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran sebanding dengan kelezatan yang dihasilkan.

Bagi pecinta kuliner yang ingin memperluas wawasan rasa, mencoba membuat Pantua di rumah bisa menjadi petualangan menarik. Dengan bahan bahan sederhana yang mudah ditemukan dan teknik yang bisa dipelajari, siapa saja berpeluang menghasilkan kudapan manis autentik ala Bengal. Kuncinya terletak pada ketelitian mengikuti setiap langkah dan kesabaran menunggu proses perendaman sirup.

Kehadiran camilan tradisional seperti Pantua di tengah gempuran makanan modern patut diapresiasi. Setiap suapan tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga membawa cerita panjang perjalanan budaya dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Saatnya melestarikan warisan kuliner ini dengan terus membuatnya hidup di dapur rumah tangga Indonesia.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food

Baca juga artikel lainnya: Bandar Laddu Manisan Khas India yang Legendaris dan Lezat

Author

By siti