JAKARTA, odishanewsinsight.com — Cente manis adalah salah satu kuliner sederhana yang diam-diam punya kekuatan besar. Ia tidak datang dengan tampilan mewah atau nama asing, tapi justru hadir apa adanya, seperti cerita lama yang terus diulang dan selalu terasa hangat. Jajanan ini sering kita temui di pasar tradisional, acara keluarga, hingga dapur rumah yang masih setia menjaga resep turun-temurun. Meski terlihat simpel, cente manis menyimpan kisah, rasa, dan nilai budaya yang tidak bisa diremehkan.
Berbahan dasar cente atau sagu mutiara yang dimasak bersama gula dan santan, CenteManis menawarkan perpaduan rasa legit, manis, dan gurih yang pas di lidah. Teksturnya kenyal, tampilannya berkilau, dan aromanya langsung mengingatkan pada masa kecil. Tak heran jika makanan ini sering disebut sebagai jajanan nostalgia yang tak lekang oleh waktu.
Dalam dunia kuliner yang terus bergerak cepat dengan tren baru setiap bulan, cente manis justru berdiri tenang di tempatnya. Ia tidak perlu ikut-ikutan viral untuk dicari. Cukup dengan satu sendok, memori lama langsung muncul, dari suasana sore hari di rumah nenek hingga jajanan setelah pulang sekolah. Inilah yang membuat CenteManis selalu punya tempat tersendiri di hati banyak orang.
Cente Manis dan Jejak Tradisi yang Masih Terjaga
Cente manis bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari tradisi kuliner Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di berbagai daerah, jajanan ini punya sebutan dan sedikit variasi berbeda, namun intinya tetap sama: makanan manis berbahan dasar sagu mutiara yang dimasak dengan penuh kesabaran.
Pada masa lalu, cente manis sering disajikan dalam acara keluarga, pengajian, atau pertemuan warga. Proses pembuatannya yang sederhana membuatnya mudah diolah oleh siapa saja, bahkan di dapur rumah dengan peralatan seadanya. Dari sinilah CenteManis menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan.
Sagu mutiara sebagai bahan utama juga punya makna tersendiri. Ia adalah hasil olahan sederhana dari pati yang diubah menjadi butiran kecil transparan. Ketika dimasak, butiran ini mengembang dan berubah menjadi kenyal serta cantik. Proses perubahan ini seolah menggambarkan filosofi sederhana dalam kuliner tradisional: bahan biasa bisa menjadi istimewa jika diolah dengan cara yang tepat.
Hingga kini, cente manis masih sering muncul di pasar tradisional sebagai jajanan pagi atau sore. Penjual biasanya menyajikannya dalam wadah sederhana, kadang dibungkus plastik, kadang disajikan di mangkuk kecil. Meski tampilannya tidak banyak berubah sejak dulu, rasa yang ditawarkan tetap konsisten dan selalu dicari.
Rasa Manis yang Sederhana Tapi Selalu Nempel di Ingatan
Salah satu kekuatan utama cente manis terletak pada rasanya yang sederhana namun berkesan. Tidak ada rasa yang terlalu dominan. Manis dari gula berpadu dengan gurih santan, sementara tekstur kenyal sagu mutiara memberikan sensasi unik saat dikunyah. Semua elemen ini bertemu dalam keseimbangan yang pas.
Berbeda dengan dessert modern yang sering bermain dengan banyak lapisan rasa dan tampilan, CenteManis justru mengandalkan kejujuran rasa. Saat menyuapnya, tidak ada kejutan berlebihan, tapi justru rasa nyaman yang perlahan muncul. Ini adalah jenis makanan yang tidak membuat cepat bosan.

Cente manis juga fleksibel dalam penyajian. Ada yang menyukainya hangat karena aromanya lebih keluar, ada juga yang lebih menikmati versi dingin karena terasa segar. Beberapa orang menambahkan es batu, potongan nangka, atau bahkan susu kental manis untuk variasi rasa. Meski begitu, versi klasiknya tetap jadi favorit banyak orang.
Rasa cente manis sering dikaitkan dengan kenangan. Bagi sebagian orang, ini adalah jajanan setelah pulang sekolah. Bagi yang lain, ini adalah hidangan penutup sederhana setelah makan bersama keluarga. Setiap orang punya cerita sendiri, dan itulah yang membuat CenteManis terasa lebih dari sekadar makanan.
Proses Pembuatan yang Mudah dan Ramah Dapur Rumahan
Salah satu alasan cente manis bertahan hingga sekarang adalah proses pembuatannya yang relatif mudah. Bahan-bahannya pun tidak sulit ditemukan. Sagu mutiara, gula pasir atau gula merah, santan, dan sedikit garam sudah cukup untuk menciptakan hidangan yang memuaskan.
Proses memasaknya dimulai dengan merebus sagu mutiara hingga matang dan transparan. Tahap ini membutuhkan kesabaran karena sagu harus benar-benar matang agar tidak keras di bagian tengah. Setelah itu, sagu dicampur dengan larutan gula yang sudah dimasak hingga mengental. Santan biasanya dimasak terpisah lalu dituangkan saat penyajian atau dicampur langsung, tergantung selera.
Kesederhanaan proses ini membuat CenteManis cocok untuk siapa saja yang ingin belajar memasak jajanan tradisional. Tidak perlu teknik rumit atau peralatan khusus. Bahkan pemula di dapur pun bisa mencobanya tanpa rasa takut gagal.
Selain itu, cente manis juga mudah disesuaikan dengan selera. Tingkat kemanisan bisa diatur, santan bisa dibuat lebih kental atau cair, dan tambahan topping bisa disesuaikan dengan bahan yang ada di rumah. Inilah yang membuat CenteManis terasa dekat dan bersahabat.
Cente Manis di Tengah Tren Kuliner Kekinian
Di tengah maraknya dessert modern dengan nama-nama unik dan tampilan Instagramable, cente manis tetap punya penggemar setia. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, jajanan tradisional ini mulai dilirik kembali dan dikemas dengan tampilan yang lebih modern.
Beberapa kedai kopi dan restoran tradisional mulai menyajikan CenteManis sebagai menu penutup. Penyajiannya dibuat lebih rapi, menggunakan mangkuk cantik, dengan tambahan topping kekinian. Meski tampilannya berubah, rasa dasarnya tetap dipertahankan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak pernah benar-benar kalah oleh zaman. Selama rasanya jujur dan punya cerita, makanan seperti CenteManis akan selalu menemukan jalannya sendiri. Generasi muda pun mulai mengenal dan menghargai jajanan ini, tidak hanya sebagai makanan, tapi juga sebagai bagian dari identitas kuliner lokal.
Media sosial juga ikut berperan dalam kebangkitan cente manis. Foto-foto jajanan tradisional dengan narasi nostalgia sering mendapat respons positif. Ini membuktikan bahwa di balik kesederhanaannya, CenteManis punya daya tarik emosional yang kuat.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang food
Simak ulasan mendalam lainnya tentang Mugalgal: Menyapa Lidah dengan Cerita Rasa Khas Timur Tengah
