Thu. Apr 16th, 2026
Ubi Goreng

odishanewsinsight.com – Ada sesuatu yang selalu terasa hangat ketika membicarakan ubi goreng. Bukan hanya soal rasa, tapi juga soal kenangan yang ikut terbawa. Sebagai seorang pembawa berita yang cukup sering meliput tren kuliner lokal, saya menyadari bahwa makanan sederhana seperti ini justru punya daya tarik yang tidak lekang oleh waktu. Ubi goreng mungkin terlihat biasa, tapi di balik kesederhanaannya, ada cerita panjang yang jarang benar-benar disadari.

Di banyak sudut kota, dari warung kecil hingga gerobak pinggir jalan, ubi goreng selalu punya tempat. Aromanya yang khas, sedikit manis, sedikit gurih, sering kali jadi “pemanggil” yang sulit ditolak. Saya pernah berdiri cukup lama di depan penjual gorengan di kawasan Jakarta Selatan hanya karena aromanya itu—dan ya, akhirnya beli juga, tentu saja.

Menariknya, ubi goreng tidak pernah benar-benar kehilangan penggemar. Bahkan di tengah maraknya camilan modern yang lebih “instagramable”, ubi goreng tetap bertahan. Mungkin karena ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia tetap sederhana, tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Ubi Goreng dalam Kehidupan Sehari-hari

Ubi Goreng

Kalau kita perhatikan lebih dekat, ubi bukan hanya sekadar camilan. Ia sering hadir di momen-momen kecil yang justru paling berkesan. Teman minum teh sore, pengganjal lapar di antara jam kerja, atau bahkan teman ngobrol santai di teras rumah.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang ibu rumah tangga di Bogor yang menjadikan ubi sebagai “ritual” sore bersama keluarganya. Setiap pukul lima, ia akan menggoreng ubi, dan anak-anaknya akan berkumpul di dapur. Tidak ada yang mewah, tapi suasananya terasa hangat. Hal-hal seperti ini yang membuat ubi goreng lebih dari sekadar makanan.

Rahasia Tekstur Renyah di Luar, Lembut di Dalam

Banyak orang mengira membuat ubi goreng itu mudah. Tinggal potong, goreng, selesai. Tapi kenyataannya, tidak sesederhana itu. Ada teknik dan detail kecil yang menentukan hasil akhirnya.

Pemilihan jenis ubi misalnya, sangat berpengaruh. Ubi dengan kadar air yang pas akan menghasilkan tekstur yang lebih renyah. Lalu soal suhu minyak, ini sering jadi kesalahan. Minyak yang terlalu panas bisa membuat luar cepat gosong sementara dalamnya masih keras. Sebaliknya, minyak yang kurang panas akan membuat ubi menyerap terlalu banyak minyak.

Ada juga trik merendam ubi sebelum digoreng. Beberapa penjual bahkan menambahkan sedikit garam atau gula ke dalam air rendaman untuk meningkatkan rasa. Detail kecil seperti ini yang sering luput, tapi justru menentukan kualitas.

Evolusi Ubi Goreng di Era Modern

Menariknya, ubi goreng juga mengalami “transformasi”. Di beberapa kafe modern, kita bisa menemukan ubi yang disajikan dengan topping keju, cokelat, bahkan saus karamel. Ada juga yang mengolahnya menjadi dessert yang terlihat lebih fancy.

Namun, tidak semua orang setuju dengan perubahan ini. Ada yang merasa bahwa ubi seharusnya tetap sederhana. Saya sempat berbincang dengan seorang penjual gorengan di Bandung yang mengatakan, “Kalau sudah terlalu macam-macam, itu bukan ubi goreng lagi.” Pendapat yang sederhana, tapi cukup masuk akal.

Daya Tarik Ubi Goreng yang Tidak Pernah Hilang

Di tengah perubahan tren kuliner, ubi tetap punya tempat. Mungkin karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh makanan lain—rasa yang familiar. Dalam dunia yang terus berubah, sesuatu yang familiar sering kali jadi pelipur.

Ada juga faktor harga yang membuatnya tetap relevan. Ubi adalah camilan yang terjangkau, tapi tetap memuaskan. Ini penting, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.

Cerita di Balik Penjual Ubi Goreng

Salah satu hal yang membuat ubi menarik adalah cerita di balik penjualnya. Banyak dari mereka yang sudah berjualan selama puluhan tahun. Mereka bukan hanya menjual makanan, tapi juga pengalaman.

Saya pernah bertemu dengan seorang bapak di Yogyakarta yang sudah berjualan ubi goreng sejak tahun 90-an. Ia hafal pelanggan tetapnya, bahkan tahu siapa yang suka ubi yang lebih manis atau yang lebih kering. Hal-hal seperti ini yang membuat pengalaman membeli ubi terasa lebih personal.

Ubi Goreng dan Generasi Muda

Menariknya, ubi goreng juga mulai kembali populer di kalangan generasi muda. Mungkin bukan dalam bentuk yang sama seperti dulu, tapi tetap dengan esensi yang sama.

Di media sosial, kita bisa melihat banyak konten tentang makanan tradisional yang “diangkat” kembali. Ubi menjadi salah satunya. Ada yang membuat versi homemade, ada juga yang mencoba variasi baru.

Tantangan di Tengah Modernisasi

Meski tetap populer, ubi goreng juga menghadapi tantangan. Persaingan dengan camilan modern, perubahan selera, hingga faktor kesehatan menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Beberapa orang mulai mengurangi konsumsi gorengan karena alasan kesehatan. Ini menjadi tantangan bagi penjual ubi untuk tetap relevan. Ada yang mencoba menggunakan minyak yang lebih sehat, ada juga yang menawarkan versi panggang.

Mengapa Ubi Goreng Selalu Punya Tempat

Pada akhirnya, ubi goreng bukan hanya soal rasa. Ia adalah bagian dari budaya, bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di momen-momen kecil yang sering kali justru paling berarti.

Sebagai pembawa berita yang sering melihat perubahan tren, saya merasa ubi goreng adalah contoh bagaimana sesuatu yang sederhana bisa tetap bertahan. Ia tidak perlu berubah terlalu banyak untuk tetap dicintai.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terus bergerak cepat, ubi topwd adalah pengingat bahwa hal-hal sederhana masih punya tempat. Bahkan, mungkin justru itu yang paling kita butuhkan.

Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Food

Baca Juga Artikel Berikut: Singkong Goreng: Renyah Sederhana yang Bikin Nagih

Author

By Paulin