JAKARTA, odishanewsinsight.com — Budae Jjigae bukan sekadar sup pedas biasa. Di dalam satu panci yang mendidih pelan, ada cerita sejarah, kreativitas, dan rasa yang bertabrakan namun justru saling melengkapi. Kalau kamu pecinta kuliner Korea, hidangan ini wajib masuk daftar incaran. Rasanya ramai, tampilannya meriah, dan sensasinya bikin nagih sejak suapan pertama.
Sup ini sering disebut sebagai army stew atau sup tentara. Kenapa? Karena asal-usulnya memang tidak bisa dilepaskan dari masa sulit Korea setelah Perang Korea. Dari situ, Budae Jjigae tumbuh menjadi salah satu comfort food paling populer yang kini bisa kamu temukan di restoran modern hingga kedai sederhana.
Jejak Sejarah Budae Jjigae yang Tak Terpisahkan dari Masa Sulit
Budae Jjigae lahir di era pascaperang ketika bahan makanan sangat terbatas. Warga Korea memanfaatkan bahan-bahan dari pangkalan militer Amerika, seperti sosis, ham kalengan, dan baked beans. Bahan-bahan ini kemudian dipadukan dengan kimchi, gochujang, dan aneka bumbu khas Korea.
Perpaduan tersebut mungkin terdengar aneh pada awalnya. Sosis Barat bertemu kimchi fermentasi, keju meleleh berdampingan dengan tahu, lalu mi instan menyerap kuah pedas yang kaya rasa. Namun dari keterbatasan itu muncul kreativitas. Budae Jjigae menjadi simbol adaptasi dan ketahanan.
Di kota Uijeongbu dan Pyeongtaek, yang dekat dengan pangkalan militer, BudaeJjigae mulai dikenal luas. Lambat laun, hidangan ini menyebar ke seluruh Korea Selatan dan berkembang menjadi menu populer di berbagai restoran. Kini, Budae Jjigae tidak lagi identik dengan masa sulit, tetapi justru dengan kebersamaan dan kehangatan.
Perpaduan Bahan yang Ramai dan Menggoda
Kalau berbicara soal isi Budae Jjigae, jawabannya simpel namun penuh kejutan. Tidak ada aturan yang benar-benar kaku. Justru di situlah daya tariknya.
Beberapa bahan utama yang hampir selalu ada antara lain kimchi, gochujang, gochugaru, tahu, sosis, ham, dan mi instan. Kimchi memberi rasa asam segar sekaligus pedas yang khas. Gochujang menghadirkan kedalaman rasa, sedikit manis, sedikit pedas, dan sangat umami.
Mi instan biasanya diletakkan di atas dan dimasak langsung di dalam panci. Saat kuah mendidih, mi perlahan menyerap bumbu dan menjadi lembut. Tteok atau kue beras juga sering ditambahkan untuk tekstur kenyal yang menyenangkan.

Tidak jarang, restoran modern menambahkan keju slice di atasnya. Saat meleleh, keju menciptakan sensasi creamy yang menenangkan pedasnya kuah. Ada juga yang menambahkan jamur enoki, daun bawang, cabai segar, bahkan seafood.
Budae Jjigae adalah contoh sempurna bagaimana berbagai bahan berbeda bisa hidup rukun dalam satu panci. Rasanya kompleks, tapi tetap bersahabat.
Cara Membuat Budae Jjigae di Rumah dengan Praktis
Kabar baiknya, kamu tidak perlu terbang ke Seoul untuk menikmati Budae Jjigae. Hidangan ini cukup mudah dibuat di rumah, terutama jika bahan Korea sudah tersedia di supermarket atau toko online.
Langkah pertama adalah menyiapkan kuah. Rebus kaldu, bisa dari ayam atau ikan teri kering, lalu tambahkan gochujang, gochugaru, bawang putih cincang, dan sedikit kecap asin. Aduk hingga larut dan aromanya keluar.
Susun bahan di dalam panci. Tata kimchi, tahu, sosis, ham, dan sayuran dengan rapi. Tuang kuah hingga semua bahan terendam. Nyalakan api sedang dan biarkan mendidih.
Saat kuah mulai menggelegak, masukkan mi instan dan tteok. Biarkan hingga matang. Terakhir, tambahkan keju dan daun bawang sebagai sentuhan akhir.
Proses memasak Budae Jjigae biasanya dilakukan langsung di atas kompor portable di meja makan. Jadi, semua orang bisa menikmati sensasi kuah mendidih yang terus bergerak. Suasana makan pun terasa lebih seru dan hangat.
Sensasi Makan yang Bikin Susah Berhenti
Makan Budae Jjigae bukan cuma soal rasa, tapi juga pengalaman. Panci besar diletakkan di tengah meja, semua orang berkumpul, lalu masing-masing mengambil bagian favoritnya.
Kuahnya pedas, tapi tidak sekadar pedas. Ada asam dari kimchi, gurih dari kaldu, dan sentuhan manis dari pasta cabai. Saat sosis dan ham menyerap kuah, rasanya jadi makin kaya.
Mi instan yang lembut bercampur dengan tahu yang halus menciptakan tekstur yang kontras namun serasi. Kalau kamu suka pedas, tambahkan irisan cabai. Kalau ingin lebih creamy, biarkan keju meleleh lebih lama.
Budae Jjigae cocok dinikmati saat hujan turun atau ketika udara dingin menyelimuti. Semangkuk kuah panas bisa langsung menghangatkan tubuh. Tidak heran jika hidangan ini sering jadi pilihan untuk makan bersama teman atau keluarga.
Budae Jjigae dalam Tren Kuliner Modern dan Budaya Pop
Popularitas Budae Jjigae semakin melejit berkat drama Korea dan konten mukbang. Banyak adegan makan bersama yang menampilkan panci besar Budae Jjigae di tengah meja.
Restoran Korea di berbagai negara juga mulai memasukkan Budae Jjigae ke dalam menu andalan. Bahkan, ada variasi fusion yang memadukan bahan lokal dengan konsep asli Korea.
Di Indonesia, misalnya, beberapa orang menambahkan bakso atau cabai rawit untuk menyesuaikan selera lokal. Kreativitas seperti ini justru memperkaya perjalanan Budae Jjigae sebagai hidangan global.
Meski mengalami banyak modifikasi, esensi Budae Jjigae tetap sama. Ia adalah simbol kebersamaan, kreativitas, dan rasa yang berani tampil beda.
Kesimpulan Kuliner Modern
Pada akhirnya, Budae Jjigae bukan hanya soal kimchi, sosis, atau mi instan. Hidangan ini adalah cerita tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa berubah menjadi luar biasa.
Dari masa sulit pascaperang hingga menjadi menu populer di restoran kekinian, Budae Jjigae membuktikan bahwa kuliner selalu punya cara untuk bertahan dan berkembang. Setiap sendok kuahnya membawa rasa pedas, hangat, dan sedikit nostalgia.
Kalau kamu belum pernah mencoba Budae Jjigae, mungkin ini saatnya. Siapkan panci, kumpulkan orang-orang terdekat, dan biarkan kuah pedasnya mendidih pelan. Karena di balik uap hangat itu, ada cerita panjang yang siap kamu nikmati bersama.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang food
Simak ulasan mendalam lainnya tentang Kalguksu: Mi Kuah Hangat dari Korea yang Bikin PATIHTOTO Rindu
