Fri. Feb 27th, 2026
Naengmyeon

JAKARTA, odishanewsinsight.com  —  Naengmyeon bukan sekadar mie dingin biasa. Di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang, filosofi musim, hingga permainan rasa yang bikin lidah seperti diajak naik roller coaster rasa. Buat kamu pecinta kuliner Korea, nama ini mungkin sudah sering lewat di drama, variety show, atau bahkan di meja makan restoran Korea favoritmu.

Sebagai penikmat kuliner, menurutku naengmyeon punya daya tarik yang berbeda dibanding ramyeon atau tteokbokki yang lebih “ramai” rasa. Ia tenang, dingin, tapi justru di situlah kejutan rasa bersembunyi. Yuk, kita kupas tuntas dunia dari sejarah, jenis, rasa, sampai kenapa makanan ini wajib masuk daftar eksplorasi kuliner kamu.

Ketika Mie Bertemu Es: Asal Usul Naengmyeon yang Tak Biasa

Kalau membayangkan mie disajikan dengan es batu, mungkin reaksi pertama adalah bingung. Tapi di Korea, khususnya di wilayah Pyongyang dan Hamhung, naengmyeon sudah menjadi bagian dari tradisi sejak ratusan tahun lalu.

Awalnya, naengmyeon bukanlah makanan musim panas seperti yang banyak orang kira sekarang. Justru, hidangan ini dulu dinikmati saat musim dingin. Logikanya sederhana tapi unik. Pada masa lalu, es alami lebih mudah didapatkan di musim dingin, dan mie soba dari gandum buckwheat menjadi bahan utama yang mudah tumbuh di daerah utara Korea.

Mul Naengmyeon dari Pyongyang terkenal dengan kuah kaldu bening yang terbuat dari rebusan daging sapi atau kaldu sapi yang dicampur dengan kaldu kimchi dongchimi. Rasanya ringan, sedikit asam, segar, dan tidak terlalu kuat. Sementara itu, Hamhung lebih dikenal dengan, versi tanpa kuah dengan saus gochujang pedas yang menggigit.

Seiring waktu, berevolusi. Dari makanan khas wilayah tertentu, kini menjadi ikon kuliner Korea yang bisa kamu temukan hampir di setiap restoran Korea, baik di Seoul, Busan, bahkan di Jakarta sekalipun.

Mul dan Bibim Sebuah Dua Dunia dalam Satu Mangkok

Kalau kamu baru pertama kali mencoba naengmyeon, biasanya akan dihadapkan pada dua pilihan utama: Mul atau Bibim . Keduanya sama-sama menggoda, tapi punya karakter yang benar-benar berbeda.

Mul Naengmyeon adalah versi berkuah. Mienya disajikan dalam mangkuk stainless steel besar, tenggelam dalam kaldu dingin yang sering kali diberi tambahan es batu. Topping klasiknya meliputi irisan daging sapi rebus, telur rebus setengah atau utuh, irisan mentimun, pir Korea, dan lobak acar.

Naengmyeon

Saat suapan pertama masuk ke mulut, sensasinya seperti membuka jendela di tengah hari yang terik. Dingin, segar, sedikit asam, dan ada sentuhan gurih dari kaldu sapi. Tekstur mie yang kenyal dari buckwheat membuat pengalaman makan jadi lebih seru karena harus sedikit “berjuang” saat mengunyah.

Di sisi lain, Bibim adalah versi penuh semangat. Mie dingin dicampur dengan saus gochujang merah menyala, ditambah cuka dan gula untuk keseimbangan rasa. Hasilnya? Pedas, manis, asam, dan segar dalam satu adukan dramatis.

Biasanya, sebelum dimakan, semua bahan diaduk hingga rata. Warna merah saus melapisi setiap helai mie seperti jaket musim panas yang berani. Buat kamu pecinta pedas, bibim bisa jadi pilihan yang lebih menantang.

Rasa, Tekstur, dan Filosofi Kesegaran dalam Naengmyeon

Yang membuat naengmyeon unik bukan cuma karena disajikan dingin, tapi karena keseimbangan rasanya diracik dengan sangat hati-hati. Dalam satu mangkuk, kamu akan menemukan kombinasi gurih, asam, manis, bahkan pedas yang saling menyapa tanpa saling mendominasi.

Mie buckwheat yang digunakan biasanya berwarna cokelat keabu-abuan. Kandungan buckwheat memberikan tekstur lebih kenyal dan sedikit kasar dibanding mie gandum biasa. Sensasi ini justru menjadi ciri khas. Banyak orang bahkan sengaja memotong mie dengan gunting karena panjangnya bisa seperti pita tanpa ujung.

Kaldu pada mul naengmyeon dibuat dari rebusan tulang sapi dalam waktu lama, lalu didinginkan hingga rasa lemaknya terasa lebih ringan. Penambahan dongchimi atau kimchi air memberikan sentuhan asam alami yang menyegarkan.

Sementara pada bibim, sausnya adalah pusat perhatian. Gochujang berkualitas tinggi dicampur dengan bawang putih, cuka, gula, dan kadang minyak wijen. Setiap elemen punya peran. Tidak ada yang sekadar numpang lewat.

Menariknya, naengmyeon sering dianggap sebagai simbol keseimbangan yin dan yang dalam makanan. Dingin dari kuah dan mie bertemu dengan rasa tajam dari kimchi atau saus pedas. Segar bertemu gurih. Ringan bertemu berani.

Cara Menikmati Biar Pengalaman Makin Maksimal

Banyak orang mengira makan naengmyeon itu sederhana. Tinggal aduk atau langsung seruput. Padahal ada beberapa tips kecil yang bisa bikin pengalaman kamu naik level.

Pertama, cicipi dulu kuahnya sebelum menambahkan cuka atau mustard. Di banyak restoran Korea, kamu akan disediakan botol cuka dan saus mustard kuning. Tambahkan sedikit demi sedikit sesuai selera, jangan langsung kebanyakan.

Kedua, jangan kaget dengan panjang mie. Di Korea, pelayan sering menawarkan gunting untuk memotong mie agar lebih mudah dimakan. Ini hal yang wajar dan bukan pelanggaran etika makan.

Ketiga, padukan dengan side dish seperti kimchi, mandu, atau bulgogi. Kombinasi ini sering ditemukan dalam set menu. Sensasi dingin akan terasa makin kontras jika dipadukan dengan daging panggang hangat.

Kalau kamu ingin membuat naengmyeon di rumah, sekarang sudah banyak bahan instan yang dijual di supermarket Asia. Namun, kalau ingin rasa lebih autentik, membuat kaldu sendiri tentu jadi tantangan menarik. Prosesnya memang butuh waktu, tapi hasilnya sepadan.

Naengmyeon di Era Modern: Dari Tradisi ke Tren Global

Di era media sosial, naengmyeon mendapat panggung baru. Foto mangkuk stainless steel dengan mie dingin berkilau dan es batu transparan sering muncul di Instagram atau TikTok. Visualnya memang estetik dan berbeda dari mie kebanyakan.

Restoran Korea modern bahkan mulai bereksperimen. Ada dengan topping seafood, irisan wagyu, hingga versi fusion dengan tambahan truffle oil. Meski terdengar eksperimental, akar tradisinya tetap terasa.

Di Indonesia sendiri, naengmyeon mulai dikenal seiring meningkatnya popularitas K-pop dan K-drama. Banyak orang penasaran setelah melihat adegan karakter drama menikmati mie dingin di tengah musim panas.

Yang menarik, meskipun berasal dari budaya berbeda, lidah Indonesia yang terbiasa dengan sambal dan rasa kuat ternyata cukup mudah menerima bibim naengmyeon. Sementara mul sering jadi favorit bagi mereka yang mencari sesuatu yang lebih ringan dan menyegarkan.

Dingin yang Menghangatkan Kenangan

Naengmyeon mengajarkan bahwa makanan tidak selalu harus panas untuk terasa nyaman. Dalam semangkuk mie dingin, ada cerita tentang musim, tradisi, dan kreativitas yang bertahan lintas generasi.

Bagi pecinta kuliner, mencoba bukan hanya soal mencicipi mie dingin khas Korea. Ini tentang membuka diri pada pengalaman baru, pada tekstur yang berbeda, dan pada sensasi rasa yang mungkin belum pernah kamu temui sebelumnya.

Jika kamu sedang mencari kuliner Korea yang unik, menyegarkan, dan punya nilai sejarah kuat, naengmyeon adalah jawabannya. Entah itu mul yang tenang atau bibim yang penuh energi, keduanya sama-sama menawarkan petualangan rasa yang sulit dilupakan.

Jadi, lain kali saat cuaca terasa panas atau kamu bosan dengan menu yang itu-itu saja, ingat satu nama ini. Si mie dingin yang diam-diam menyimpan kejutan besar di setiap helainya.

Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang  food

Simak ulasan mendalam lainnya tentang Budae Jjigae: Harmoni Pedas dalam Satu Panci Hangat

Author