JAKARTA, odishanewsinsight.com – Biltong adalah camilan yang lahir dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi kebanggaan kuliner yang tidak tertandingi. Ia adalah daging yang diawetkan dengan cuka, garam. Dan rempah-rempah, kemudian dikeringkan di udara hingga mencapai tekstur yang sempurna: renyah di luar. Masih sedikit lembab dan kenyal di dalam, dengan rasa yang sangat intens dan sangat kaya.
Di Afrika Selatan, biltong bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari identitas nasional yang sangat kuat, hadir di setiap toko, setiap pertandingan rugby, dan setiap piknik keluarga. Selanjutnya, perdebatan tentang biltong mana yang terbaik adalah diskusi yang selalu hidup di antara orang Afrika Selatan di manapun mereka berada. Selain itu, setiap pembuat biltong memiliki rasio bumbu dan teknik pengeringannya sendiri yang dianggap sebagai yang paling sempurna.
Sejarah Biltong: Dari Padang Rumput ke Seluruh Dunia

Sejarah biltong dimulai dari kebutuhan para Voortrekkers. Pemukim Boer atau Afrikaner yang melakukan Great Trek atau migrasi besar-besaran ke pedalaman Afrika Selatan pada tahun 1830-an dan 1840-an. Selanjutnya, perjalanan berbulan-bulan di tengah padang sabana yang luas membutuhkan makanan yang bisa bertahan lama. Ringan untuk dibawa, dan tetap bergizi.
Teknik mengawetkan daging dengan garam dan mengeringkannya sudah dikenal oleh penduduk asli Khoikhoi. Dan San yang sudah lama memanfaatkannya untuk mengawetkan daging hasil buruan. Selanjutnya, para Voortrekkers mengadaptasi teknik ini dan menambahkan cuka dan rempah-rempah untuk menghasilkan biltong yang lebih tahan lama dan lebih beraroma. Oleh karena itu, biltong adalah produk dari perpaduan pengetahuan penduduk asli dengan inovasi kuliner para pemukim yang menghasilkan sesuatu yang sangat unik dan sangat khas Afrika Selatan.
Biltong vs Beef Jerky: Perbedaan yang Fundamental
Banyak yang mengira biltong sama dengan beef jerky Amerika. Namun perbedaan keduanya sangat fundamental. Pertama, biltong menggunakan cuka sebagai bagian dari proses marinasi yang memberikan keasaman dan membantu pengawetan secara alami. Sebaliknya, jerky tidak menggunakan cuka. Kedua, biltong dikeringkan di udara selama beberapa hari, sementara jerky biasanya dimasak atau dehidrasi menggunakan panas. Selanjutnya, perbedaan proses ini menghasilkan tekstur yang sangat berbeda. Biltong lebih lembab dan lebih kenyal di dalam, sementara jerky lebih kering dan lebih crispy secara merata. Selain itu, profil rempah keduanya sangat berbeda, biltong menggunakan ketumbar sebagai rempah utama. Jerky lebih sering menggunakan campuran rempah yang berbeda.
Bahan-Bahan untuk Membuat Biltong
- Daging sapi bagian silverside atau topside yang dipotong memanjang mengikuti serat daging
- Cuka sari apel atau cuka anggur merah sebagai bahan marinasi dan pengawet alami
- Garam kasar dalam jumlah yang cukup banyak sebagai pengawet utama dan pemberi rasa
- Ketumbar sangrai kasar sebagai rempah paling khas dan paling identik dengan biltong
- Merica hitam kasar yang memberikan rasa pedas yang ringan namun konsisten
- Gula sedikit untuk membantu proses pengeringan dan memberikan sedikit rasa manis
- Baking soda sedikit opsional yang membantu mempercepat proses pengeringan
- Chilli flakes untuk versi spicy yang sangat populer
Cara Membuat Biltong di Rumah
- Potong daging menjadi strip tebal sekitar 2 hingga 3 sentimeter dengan memotong searah serat daging, bukan melintang. Pemotongan searah serat menghasilkan tekstur yang lebih kenyal dan lebih enak untuk dikunyah.
- Celupkan setiap strip daging ke dalam cuka, pastikan semua permukaan terbasahi. Angkat dan biarkan cuka mengalir. Selanjutnya, taburi garam kasar secara merata di seluruh permukaan daging. Tumpuk daging yang sudah dibumbui dan biarkan selama 3 jam.
- Bilas daging dengan air dingin untuk menghilangkan kelebihan garam. Keringkan dengan tisu dapur dengan sangat baik.
- Campurkan bumbu kering: ketumbar sangrai kasar, merica hitam kasar, dan chilli flakes. Baluri setiap strip daging dengan campuran bumbu hingga merata di semua permukaan.
- Gantungkan setiap strip daging menggunakan kawat atau tusuk yang bersih di tempat yang berventilasi baik dengan udara yang mengalir. Proses pengeringan membutuhkan waktu 3 hingga 7 hari tergantung ukuran daging dan kondisi kelembaban udara.
- Biltong sudah siap ketika bagian luar terasa kering dan keras namun bagian dalam masih sedikit lembab ketika dipotong. Simpan dalam wadah berlubang yang memungkinkan sirkulasi udara untuk menjaga kualitasnya.
Cita Rasa yang Sangat Khas dan Sangat Addictive
Biltong memiliki profil rasa yang sangat kuat namun sangat seimbang. Pertama, rasa asin yang meresap merata ke seluruh daging hadir sebagai fondasi yang sangat kuat. Selanjutnya, ketumbar sangrai memberikan rasa earthy dan sedikit citrus yang sangat khas dan sangat membedakan biltong dari daging kering lainnya. Kemudian, sedikit keasaman dari cuka yang tersisa memberikan segar yang sangat tipis namun sangat terasa di latar belakang. Selain itu, tekstur yang unik antara luar yang renyah dan dalam yang masih sedikit kenyal menciptakan pengalaman menggigit yang sangat memuaskan.
Biltong adalah camilan yang sangat sulit untuk berhenti dimakan setelah satu gigitan pertama.
Biltong juga mengalami kebangkitan popularitas global yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, di Amerika Serikat dan Inggris, biltong semakin populer sebagai alternatif protein yang lebih sehat dari beef jerky karena proses pengeringan alaminya yang tidak menggunakan panas tinggi. Selanjutnya, berbagai merek biltong premium kini tersedia secara daring dan dikirimkan ke seluruh dunia, membawa cita rasa Afrika Selatan ke konsumen yang tidak pernah mengunjungi negara itu sekalipun. Selain itu, versi biltong dari protein non-sapi seperti kudu. Springbok, atau bahkan ostrich adalah produk premium yang sangat populer sebagai oleh-oleh eksklusif dari Afrika Selatan.
Biltong juga memiliki komunitas pembuat artisan yang semakin berkembang di berbagai negara. Misalnya, di Inggris yang memiliki komunitas diaspora Afrika Selatan yang besar, biltong artisan yang dibuat secara lokal dengan daging sapi organik dan rempah premium semakin populer dan bahkan memasuki pasar supermarket premium. Selanjutnya, di Australia yang juga memiliki komunitas Afrika Selatan yang signifikan, biltong sudah sangat umum ditemukan di berbagai toko daging dan supermarket di seluruh kota besar. Selain itu, dengan semakin mudahnya akses terhadap daging berkualitas tinggi dan rempah-rempah, membuat biltong di rumah menjadi hobi yang semakin populer di berbagai negara yang dulunya tidak mengenal hidangan ini sama sekali.
Penutup: Biltong, Warisan Ketangguhan yang Masih Relevan
Biltong lahir dari kebutuhan untuk bertahan dalam perjalanan panjang yang penuh tantangan. Sebab para Voortrekkers yang membuat biltong pertama tidak sedang menciptakan kuliner. Mereka hanya berusaha bertahan hidup dengan sangat cerdas dan sangat tangguh.
Selanjutnya, biltong mengajarkan bahwa solusi terbaik sering kali adalah yang paling sederhana dan paling langsung. Selain itu, ia mengajarkan bahwa warisan kuliner yang paling kuat adalah. Yang lahir dari kebutuhan nyata dan berhasil melampaui konteks aslinya untuk menjadi sesuatu yang dicintai bahkan ketika kebutuhannya sudah tidak ada lagi.
Oleh karena itu, ketika menemukan biltong yang autentik, ingatlah bahwa setiap gigitan daging. Yang kering dan sangat beraroma itu membawa serta kenangan tentang padang sabana Afrika Selatan yang luas dan spirit manusia yang tidak pernah menyerah.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Food
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti:
