JAKARTA, odishanewsinsight.com — Gue pertama kali nyicip Roti Canai waktu jalan-jalan ke Penang, Malaysia. Awalnya cuma penasaran karena aromanya semerbak banget dari warung pinggir jalan. Begitu gigitan pertama masuk ke mulut, lembutnya tekstur dan gurihnya rasa langsung bikin gue jatuh cinta. Roti Canai ini bukan cuma sekadar roti, tapi pengalaman kuliner yang susah dilupain. Dengan tekstur renyah di luar tapi lembut di dalam, Roti Canai kayak punya dua kepribadian yang harmonis banget di lidah.
Yang bikin menarik, Roti Canai biasanya disajikan bareng kuah kari kental atau dhal (kacang lentil) yang gurih pedas. Kombinasinya tuh pas banget, bikin rasa roti makin hidup. Banyak juga yang suka makan Roti Canai pakai gula atau susu kental manis. Nah, yang ini cocok banget buat lo yang suka rasa manis dan gurih jadi satu.
Kelezatan Roti Canai yang Bikin Lo Ketagihan Tiap Gigit
Kalau lo tanya apa sih kelebihan Roti Canai dibanding roti lain, jawabannya banyak banget. Pertama, dari segi tekstur. RotiCanai punya tekstur yang unik banget—renyah di luar, lembut di dalam. Proses pembuatannya juga menarik, lo harus liat sendiri gimana para penjual menggulung, memutar, dan memipihkan adonan di udara dengan kecepatan tinggi. Teknik itu yang bikin RotiCanai punya lapisan-lapisan tipis yang khas.
Kelebihan lain dari Roti Canai adalah fleksibilitasnya. Mau lo makan buat sarapan, makan siang, bahkan cemilan malam juga bisa. Bisa disajikan manis, asin, pedas—semuanya cocok. Belum lagi, bahan-bahannya simpel banget: tepung, air, garam, dan sedikit minyak atau margarin. Tapi hasilnya? Wah, luar biasa lezat!
Dari sisi ekonomi juga oke banget. Roti Canai bisa jadi pilihan makanan yang murah tapi mengenyangkan. Lo nggak perlu keluar duit banyak buat dapetin rasa yang sekelas restoran mahal. Ini yang bikin banyak orang jatuh cinta sama makanan satu ini.
Pengalaman Seru Gue Nyicip Roti Canai di Berbagai Tempat
Gue udah nyobain Roti Canai di beberapa tempat, dari warung pinggir jalan sampe restoran India dan Malaysia di kota besar. Dan yang menarik, setiap tempat punya cita rasa yang beda. Ada yang lebih gurih karena pakai mentega sapi, ada juga yang lebih ringan karena pakai minyak nabati.

Pernah juga gue makan Roti Canai di restoran yang ngasih topping keju dan telur. Gila, kombinasi itu bikin rasa makin naik level! Lembutnya roti ketemu lumeran keju dan gurihnya telur setengah matang—perfect banget. Tapi pengalaman paling memorable tetep di warung kecil di Kuala Lumpur. RotiCanainya disajikan panas-panas bareng kari ayam yang pedasnya nampol. Suapan pertama langsung bikin gue ngerasa, “Ini dia, makanan comfort yang sejati.”
Kadang juga gue bikin sendiri di rumah. Walau hasilnya belum bisa ngalahin yang dijual abang-abang Malaysia, tapi ada kepuasan tersendiri pas bisa muter-muter adonan kayak profesional (walau sempet berantakan juga, hehe). Dari situ gue belajar, ternyata bikin Roti Canai tuh nggak sesulit kelihatannya asal sabar dan latihan terus.
Kekurangan Rasa yang Kadang Nggak Terpikirkan
Tapi, kayak makanan lainnya, Roti Canai juga punya sisi kurangnya. Pertama, kandungan minyaknya cukup tinggi. Karena proses memasaknya digoreng di atas wajan datar dengan banyak minyak atau mentega, jadi kalau lo lagi diet, sebaiknya jangan terlalu sering makan. Meski rasanya menggoda, lemaknya bisa bikin lo ngerasa guilty setelahnya.
Kedua, Roti Canai juga nggak tahan lama kalau udah dingin. Teksturnya yang tadinya renyah bisa jadi keras atau alot. Jadi, cara terbaik menikmatinya ya langsung setelah dimasak. Lo bakal dapet sensasi kriuk luar dan lembut dalam yang sempurna. Nah, kalo lo beli buat dibungkus, pastiin disimpan di tempat tertutup biar nggak kering.
Satu lagi, buat yang punya intoleransi gluten, Roti Canai mungkin bukan pilihan ideal karena bahan utamanya tepung terigu. Tapi sekarang banyak versi gluten-free yang bisa lo cari kalau tetep pengen menikmati sensasinya tanpa khawatir.
Kesalahan yang Harus Lo Hindari Saat Bikin Roti Canai Sendiri
Kalau lo mau coba bikin Roti Canai di rumah, ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pemula. Pertama, jangan terlalu buru-buru waktu ngulenin adonan. RotiCanai butuh adonan yang elastis, jadi pastiin lo uleni sampai kalis sempurna. Kalau adonan masih keras, nanti hasilnya juga kaku dan nggak bisa dibentuk.
Kedua, jangan pelit minyak. Ini penting banget karena minyak bikin lapisan roti nggak lengket dan bantu menghasilkan tekstur lembut. Tapi ingat, jangan juga kebanyakan sampai adonan berminyak banget. Kuncinya di keseimbangan.
Ketiga, jangan langsung goreng adonan setelah diuleni. Lo harus istirahatin dulu minimal 1 jam biar gluten-nya santai dan gampang dibentuk. Kalau lo langsung goreng, rotinya bakal jadi tebal dan nggak bisa dapetin efek berlapis khas Roti Canai.
Terakhir, api saat menggoreng juga harus pas. Kalau terlalu kecil, roti bisa jadi lembek. Kalau terlalu besar, luar gosong tapi dalamnya masih mentah. Jadi lo harus sabar dan perhatiin warna rotinya.
Kesimpulan
Roti Canai itu bukan cuma roti biasa. Buat gue, ini makanan yang punya cerita dan rasa nostalgia tersendiri. Setiap gigitan kayak ngingetin gue sama suasana warung hangat di pagi hari, aroma mentega yang semerbak, dan sensasi gurih lembut yang bikin nagih. Kelebihannya banyak: lezat, fleksibel, gampang ditemuin, dan bisa disajikan dalam berbagai cara. Tapi, tetap ada hal yang perlu diperhatiin, terutama kalau lo lagi jaga pola makan.
Kalau lo belum pernah coba Roti Canai, lo wajib banget nyobain. Nggak perlu jauh-jauh ke Malaysia, sekarang udah banyak warung atau restoran di Indonesia yang jual menu ini. Dan kalau lo suka tantangan, coba bikin sendiri di rumah. Siapa tahu, lo malah nemuin versi RotiCanai favorit lo sendiri.
Intinya, Roti Canai bukan cuma tentang rasa, tapi juga tentang pengalaman. Dan buat gue, pengalaman itu yang bikin makanan ini selalu punya tempat spesial di hati.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang food
Baca juga artikel menarik lainnya mengenai Beef Gyoza—Rahasia di Balik Cita Rasa Gurih yang Bikin Ketagihan
