Mon. Jan 26th, 2026
Susu Kedelai

JAKARTA, odishanewsinsight.com – Di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, satu minuman tradisional kembali mencuri perhatian: susu kedelai. Tak hanya menjadi alternatif bagi mereka yang alergi laktosa, tapi juga simbol dari pergeseran budaya konsumsi menuju pola makan yang lebih berbasis nabati.

Susu ini bukan barang baru. Ia telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat Asia, terutama di Indonesia. Namun belakangan, pamornya meningkat tajam seiring dengan tren veganisme dan meningkatnya kebutuhan akan sumber protein nabati.

Bayangkan pagi yang sejuk, ditemani segelas susukedelai hangat buatan rumah, harum aroma kedelai sangrai menyapa hidung, dan rasa gurih manisnya menyusup pelan ke tenggorokan. Rasanya tak hanya menyehatkan, tapi juga membawa nostalgia.

Bahan Dasar yang Kaya Manfaat

Susu Kedelai

Susu kedelai berasal dari biji kedelai kuning pilihan yang direndam, digiling, dimasak, dan disaring hingga menghasilkan cairan putih kekuningan dengan rasa khas. Yang membuatnya spesial bukan hanya rasa, tapi kandungan gizinya.

Dalam satu gelas susukedelai (sekitar 250 ml), biasanya terkandung:

  • Protein nabati tinggi

  • Asam amino esensial lengkap

  • Lemak sehat (tidak jenuh ganda)

  • Serat alami

  • Kalsium, magnesium, dan vitamin B

Berbeda dari susu hewani, susukedelai bebas kolesterol dan sangat rendah lemak jenuh. Inilah mengapa banyak dokter gizi merekomendasikannya sebagai alternatif sehat untuk penderita kolesterol tinggi, hipertensi, atau diabetes tipe 2.

Cara Membuat Susu Kedelai yang Lezat dan Alami

Tak sedikit orang menganggap membuat susu kedelai itu rumit, padahal kenyataannya sangat sederhana jika dilakukan dengan cara yang tepat.

Bahan-bahan:

  • 250 gram kedelai kuning, rendam semalaman

  • 1 liter air matang

  • Daun pandan atau vanili secukupnya (opsional)

  • Gula aren atau madu sebagai pemanis alami (opsional)

Langkah-langkah:

  1. Cuci bersih kedelai yang telah direndam.

  2. Blender kedelai dengan air hingga halus.

  3. Saring dengan kain bersih atau saringan halus.

  4. Masak cairan hasil saringan hingga mendidih, tambahkan pandan jika ingin aroma khas.

  5. Dinginkan, sajikan hangat atau dingin.

Tekstur yang pas biasanya sedikit kental, tidak terlalu encer. Bila ingin lebih creamy, bisa dikurangi takaran airnya saat memblender. Tambahan seperti kayu manis, kurma, atau jahe bisa memberi karakter rasa unik.

Cita Rasa Susu Kedelai yang Tidak Bisa Disamakan

Banyak orang masih membandingkan susukedelai dengan susu sapi. Padahal keduanya punya karakteristik rasa yang sangat berbeda.

Susu kedelai memiliki rasa khas kacang, sedikit earthy, dan tekstur yang ringan namun creamy. Jika dibuat segar, aromanya cukup kuat—itulah mengapa sebagian orang menambahkan pandan, jahe, atau vanili.

Untuk penggemar rasa original, susukedelai tanpa pemanis adalah pilihan tepat. Namun bila ingin versi yang lebih ramah untuk anak-anak atau pemula, sedikit tambahan gula aren atau madu bisa jadi solusi lezat.

Beberapa UMKM bahkan sudah mulai menjual varian rasa seperti cokelat, stroberi, hingga taro. Namun di antara semua, versi original tetap paling dicari, terutama oleh kalangan pecinta hidup sehat.

Kisah Lokal di Balik Segelas Susu Kedelai

Di daerah Jawa Tengah, susu kedelai kerap disajikan dalam acara keluarga atau hajatan. Biasanya disajikan dalam termos besar dan menjadi alternatif minuman sehat pengganti teh manis. Bahkan ada pengusaha rumahan di Salatiga yang masih mempertahankan metode pembuatan susukedelai dengan tungku kayu dan saringan kain lawas demi menjaga keaslian rasa.

Cerita lain datang dari seorang pemilik kedai kecil di Bandung, yang sejak 2010 menyajikan susukedelai hangat setiap pagi. Pelanggannya dari berbagai usia. Menurutnya, susu ini bukan sekadar minuman, tapi “obat alami” untuk tubuh dan nostalgia masa kecil.

Susu Kedelai dalam Pola Hidup Modern

Saat ini, banyak anak muda mulai memasukkan susu kedelai ke dalam menu hariannya. Baik sebagai pelengkap sarapan, bahan smoothies, atau campuran kopi (yes, kedelai latte memang sudah ada!). Susukedelai juga jadi favorit para pelaku diet plant-based yang mencari pengganti susu sapi.

Beberapa merek lokal mulai hadir dengan kemasan botol ramah lingkungan dan label organik. Harganya kompetitif, dan distribusinya sudah masuk minimarket hingga e-commerce besar.

Ini menandakan satu hal: susukedelai bukan lagi minuman jadul, tapi bagian dari gaya hidup masa kini.

Insight Budaya: Dari Asia Timur ke Dapur Indonesia

Konsumsi susu kedelai sebenarnya sudah mendunia. Di Jepang, dikenal dengan nama tounyuu, biasanya dinikmati dengan tofu atau diolah menjadi sup. Di Tiongkok, susukedelai jadi bagian dari sarapan nasional, dipasangkan dengan youtiao (cakwe goreng).

Sementara di Indonesia, susukedelai lekat dengan kuliner rumahan dan produk industri kecil menengah. Dalam beberapa festival makanan tradisional, susukedelai kerap dijadikan bahan utama dalam es campur sehat, pudding, atau bahkan saus salad.

Perpaduan lokal dan global ini memberi peluang besar bagi eksplorasi rasa dan inovasi.

Susu Kedelai vs Alternatif Lain: Mana yang Terbaik?

Di antara berbagai susu nabati lain seperti almond, oat, atau santan, susu kedelai menempati posisi unik:

  • Lebih tinggi protein dibanding oat dan almond.

  • Lebih murah dibanding susu almond atau macadamia.

  • Lebih netral dan cocok untuk dimasak atau diolah.

  • Bisa diproduksi sendiri di rumah tanpa alat khusus.

Jika mengincar asupan protein tinggi dan harga terjangkau, susukedelai menjadi pilihan paling rasional.

Segelas Tradisi, Seteguk Inovasi

Susu kedelai tak hanya sekadar tren sehat, tapi juga warisan budaya yang terus beradaptasi dengan zaman. Dari dapur sederhana hingga rak modern minimarket, dari termos rumahan hingga kemasan instan, susukedelai membuktikan dirinya relevan dalam setiap masa.

Bukan hanya soal rasa, tapi soal nilai: kesederhanaan, kesehatan, dan keberlanjutan.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food

Baca juga artikel lainnya: Wedang Tahwa minuman hangat lembut khas Tionghoa

Author

By siti