Jakarta, odishanewsinsight.com – Dalam deretan kuliner Nusantara yang kaya rasa, ada satu hidangan yang selalu berhasil memikat siapa saja—baik turis lokal maupun internasional—yakni ayam Kalasan. Cita rasa manis gurihnya yang begitu khas berasal dari bumbu Kalasan manis, sebuah perpaduan rempah dan gula Jawa yang membungkus daging ayam hingga meresap sempurna. Jika rendang dikenal dengan kekayaan bumbu pedas dan santannya, maka Kalasan menampilkan sisi halus kuliner Jawa: manis, lembut, namun tetap penuh karakter.
Media kuliner nasional sering menempatkan ayam Kalasan sebagai salah satu sajian khas Yogyakarta yang paling dicari, terutama oleh wisatawan yang ingin merasakan keaslian rasa manis gurih ala Jawa Tengah. Namun sedikit yang benar-benar mendalami bagaimana bumbu Kalasan manis terbentuk, mengapa rasanya berbeda dengan ayam kecap atau ayam bacem, dan bagaimana proses memasaknya menjadi ritual yang hampir meditatif.
Sebagai pembawa berita yang telah berkali-kali meliput dunia kuliner tradisional, saya melihat bumbu Kalasan manis bukan hanya bumbu masak. Ia adalah warisan budaya, cermin filosofi masyarakat Jawa yang menjunjung kelembutan, dan representasi sempurna dari keseimbangan rasa dalam masakan Nusantara.
Artikel ini akan membawa Anda menyelami sejarah bumbu Kalasan manis, teknik memasaknya, komposisi rahasia, hingga bagaimana hidangan ini berkembang menjadi ikon kuliner Yogyakarta.
Asal-Usul Bumbu Kalasan Manis: Jejak Rasa dari Tanah Yogyakarta

Jika Anda pernah berkunjung ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Anda mungkin sudah familiar dengan kawasan Kalasan—sebuah daerah yang bukan hanya terkenal dengan Candi Kalasan, tetapi juga dengan ayam Kalasan yang mendunia. Di sinilah bumbu Kalasan manis bermula.
a. Inspirasi dari Masakan Jawa Tradisional
Masakan Jawa memiliki ciri khas manis, terutama yang berasal dari Yogyakarta dan Surakarta. Filosofi kuliner Jawa kerap menyuarakan kelembutan dan kesabaran, sehingga banyak hidangan dimasak perlahan dengan bumbu yang meresap.
b. Pengaruh Gula Jawa dalam Resep
Gula Jawa adalah komponen utama dalam bumbu Kalasan manis. Perbedaan antara gula Jawa dan gula pasir adalah kedalaman rasanya. Gula Jawa memberikan aroma karamel, warna kecokelatan alami, dan rasa manis yang lebih “bersahabat”.
c. Anekdot: Penjual Ayam Kalasan Legendaris
Dalam sebuah liputan makanan di Yogyakarta, saya pernah bertemu seorang ibu paruh baya yang mengaku telah berjualan ayam Kalasan selama lebih dari 30 tahun. Ia bercerita bahwa resep bumbu Kalasan manis yang ia gunakan merupakan turunan dari mertuanya, seorang juru masak keraton.
“Bumbunya itu harus sabar, masak pelan-pelan. Kalau buru-buru, rasanya tidak jadi halus,” katanya sambil tersenyum.
Dari cerita itu, jelas bahwa bumbu Kalasan manis lebih dari sekadar racikan, tetapi seni memasak yang diwariskan.
Komposisi Bumbu Kalasan Manis: Perpaduan Rempah yang Sederhana Namun Berkarakter
Yang menarik dari bumbu Kalasan manis adalah kesederhanaannya. Bahan-bahannya tidak rumit, namun bila diracik dengan perbandingan pas, hasilnya luar biasa.
Berikut komponen utama bumbu Kalasan manis:
1. Gula Jawa
Sumber rasa manis, sekaligus pewarna alami.
Gula Jawa disisir halus agar cepat larut saat pemasakan.
2. Bawang Putih dan Bawang Merah
Memberikan aroma dasar khas masakan Jawa.
3. Ketumbar
Rempah yang memberikan sensasi hangat dan aroma khas.
4. Kemiri
Digoreng atau disangrai terlebih dahulu, memberi tekstur dan konsistensi pada bumbu.
5. Santan
Tidak sebanyak pada opor, tetapi cukup untuk melembutkan rasa.
6. Daun Salam
Memberikan aroma tradisional yang khas.
7. Lengkuas
Memberikan sentuhan segar yang menyeimbangkan manisnya gula Jawa.
8. Garam dan Kaldu
Untuk memperkuat rasa gurih.
Anekdot: Mengapa Bumbu Ini Sulit Ditiru di Rumah
Beberapa koki yang pernah saya wawancarai mengatakan bahwa cita rasa bumbu Kalasan manis sering sulit dicapai pemula karena proses karamelisasi gula Jawa dan pengurangan santan harus dilakukan dengan api kecil. Bumbu terlalu cepat matang bisa membuat rasa pahit muncul, sedangkan bumbu yang kurang matang terasa hambar.
Teknik Memasak Bumbu Kalasan Manis: Seni Memadukan Waktu, Api, dan Kesabaran
Membuat ayam Kalasan bukan hanya soal mencampur bahan. Proses memasaknya menyerupai ritual: perlahan, konsisten, dan sabar.
a. Proses Pemanggangan dan Pengempukan
Ayam biasanya direbus bersama bumbu hingga empuk. Proses ini memastikan semua rasa meresap ke dalam daging.
b. Pengurangan Kuah (Reduction)
Bumbu Kalasan manis memiliki teknik reduction—yakni menguapkan air perlahan hingga bumbu mengental. Inilah yang membuat rasa menjadi pekat.
c. Bakar atau Goreng
Setelah direbus, ayam bisa:
-
dibakar dengan arang untuk rasa smoky
-
digoreng untuk tekstur renyah
Media kuliner nasional sering menyoroti bahwa ayam Kalasan yang dibakar di atas arang memiliki aroma yang lebih otentik.
d. Anekdot: Aroma yang Menggoda
Dalam sekali liputan, saya melihat para pedagang menyiapkan ayam Kalasan di pinggir jalan. Asap dari arang bercampur dengan aroma gula Jawa yang karamel, menciptakan aroma manis gurih yang membuat siapa pun yang lewat menoleh.
Mengapa Ayam dengan Bumbu Kalasan Manis Sangat Digemari?
Bumbu Kalasan manis menjadi favorit banyak orang karena:
1. Rasa Manis Gurih yang Seimbang
Tidak berlebihan seperti beberapa masakan manis lain.
2. Tekstur Daging yang Empuk
Proses slow cooking membuat ayam lembut tanpa hancur.
3. Aromanya yang Menggoda
Perpaduan daun salam, lengkuas, dan gula Jawa menciptakan aroma khas.
4. Cocok untuk Semua Usia
Baik anak-anak, dewasa, hingga lansia umumnya menyukai rasa Kalasan.
5. Mudah Dipadukan
Bumbu Kalasan manis cocok dengan:
-
nasi putih
-
lalapan
-
sambal korek
-
sambal bawang
Anekdot: Wisatawan yang Selalu Kembali
Banyak wisatawan yang mengaku sengaja membeli ayam Kalasan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Salah satu turis dari Surabaya mengatakan dalam wawancara bahwa “tidak lengkap rasanya ke Jogja tanpa makan ayam Kalasan”.
Ragam Hidangan Berbumbu Kalasan Manis: Tidak Hanya Ayam
Walau yang paling terkenal adalah ayam Kalasan, sebenarnya bumbu Kalasan juga digunakan dalam hidangan lain:
a. Tahu Tempe Kalasan
Rasanya meresap dan cocok dijadikan lauk pendamping.
b. Telur Kalasan
Telur direbus dalam bumbu hingga warnanya kecokelatan.
c. Ikan Kalasan
Biasanya menggunakan ikan air tawar, cocok dengan rasa manis gurih.
d. Sate Kalasan
Daging dimarinasi bumbu Kalasan sebelum dibakar.
Pengaruh Bumbu Kalasan Manis dalam Dunia Kuliner Modern
Bumbu Kalasan manis telah berkembang, tidak hanya sebagai sajian tradisional, tetapi sudah banyak diadaptasi oleh restoran modern.
a. Restoran Fusion
Beberapa restoran urban membuat:
-
rice bowl ayam Kalasan
-
pasta Kalasan
-
ayam Kalasan crispy
b. Tren Foodpreneur
Bumbu Kalasan dijadikan saus marinade ready-to-cook.
c. Ciri Khas Jogja
Hidangan Kalasan menjadi duta kuliner Yogyakarta.
Media kuliner Indonesia menyebut Kalasan sebagai salah satu “kuliner identitas” Jogja.
Tips Membuat Bumbu Kalasan Manis yang Selalu Berhasil
Berikut tips penting untuk pemula:
1. Gunakan Gula Jawa Berkualitas
Gula Jawa asli memberikan rasa yang lebih dalam.
2. Api Kecil adalah Kunci
Proses reduksi harus pelan agar tidak gosong.
3. Jangan Lupa Ketumbar dan Kemiri
Dua bahan inilah yang memberikan karakter bumbu Kalasan.
4. Gunakan Ayam Kampung
Lebih beraroma dan cocok dengan bumbu manis.
5. Diamkan Semalaman
Bumbu yang didiamkan semalaman akan meresap lebih sempurna.
Anekdot
Seorang chef hotel bintang lima pernah berkata bahwa memasak Kalasan adalah “meditasi rasa”—harus sabar agar hasilnya seimbang.
Kesimpulan: Bumbu Kalasan Manis adalah Perpaduan Rasa, Budaya, dan Cerita
Bumbu Kalasan manis bukan hanya racikan dapur. Ia adalah representasi budaya Yogyakarta yang lembut, penuh filosofi, dan menghargai keseimbangan rasa. Rasa manisnya bukan sekadar manis gula, tetapi manis yang berasal dari proses panjang dan kesabaran.
Aroma gula Jawa, rempah sederhana, dan santan yang diolah dengan telaten menciptakan hidangan yang melekat dalam ingatan banyak orang.
Kata kunci bumbu Kalasan bukan sekadar bumbu—melainkan identitas kuliner, pengalaman, dan warisan yang terus hidup.
Jika Anda belum pernah mencicipinya, mungkin ini saat yang tepat untuk mencobanya—karena setiap gigitan Kalasan membawa kita pulang ke rasa Nusantara yang hangat dan penuh cerita.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Food
Baca Juga Artikel Dari: Es Kopi Latte: Minuman Ikonik yang Menyatukan Selera, Gaya Hidup, dan Cerita di Balik Setiap Tegukan
