Jakarta, odishanewsinsight.com – Dalam dunia kuliner, ada beberapa makanan yang langsung memicu reaksi ekstrem sejak pandangan pertama. Salah satunya adalah century egg. Telur dengan warna hitam kehijauan, tekstur transparan seperti jelly, dan aroma yang cukup tajam ini sering kali membuat orang ragu sebelum mencicipinya. Bahkan, tidak sedikit yang langsung mundur pelan-pelan begitu tahu apa yang ada di piring mereka.
Century egg sering disalahpahami. Banyak orang mengira telur ini benar-benar berusia ratusan tahun. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Nama “century” lebih ke arah istilah budaya dan pemasaran, bukan durasi waktu sebenarnya. Proses pembuatannya hanya memakan waktu beberapa minggu hingga bulan, tergantung metode yang digunakan.
Di Indonesia sendiri, century egg mulai dikenal luas seiring berkembangnya kuliner Asia, khususnya masakan Tiongkok. Biasanya hadir sebagai pelengkap bubur, hidangan pembuka, atau bagian dari menu keluarga yang autentik. Meski terlihat ekstrem, bagi penggemarnya, century egg justru punya cita rasa yang kompleks dan nagih.
Kesan pertama memang penting, tapi dalam dunia kuliner, sering kali yang terlihat aneh justru menyimpan cerita panjang dan rasa yang unik. Century egg adalah contoh nyata bagaimana makanan bisa menjadi jembatan budaya. Dari dapur tradisional hingga meja makan modern, telur ini terus bertahan melawan stigma.
Yang menarik, generasi muda sekarang mulai lebih terbuka. Banyak yang penasaran, lalu mencoba, lalu berkata, “Oh, ternyata nggak seburuk yang dibayangin.” Bahkan ada yang langsung jatuh cinta. Ini menunjukkan bahwa selera bisa berkembang, asal ada keberanian untuk mencoba.
Sejarah Century Egg dan Makna Budaya di Baliknya

Century egg bukan sekadar makanan, tapi bagian dari sejarah kuliner yang panjang. Telur ini dipercaya berasal dari Tiongkok dan sudah dikonsumsi sejak ratusan tahun lalu. Awalnya, metode pengawetan telur ini ditemukan secara tidak sengaja, lalu berkembang menjadi teknik kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Proses tradisional pembuatan century egg melibatkan telur bebek yang dilapisi campuran tanah liat, abu, garam, dan bahan alkali lainnya. Telur kemudian disimpan dalam waktu tertentu hingga terjadi reaksi kimia yang mengubah tekstur dan rasanya. Putih telur berubah menjadi gel bening berwarna gelap, sementara kuningnya menjadi creamy dengan warna hijau keabu-abuan.
Dalam budaya asalnya, century egg sering dikaitkan dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan penghargaan terhadap waktu. Tidak semua makanan harus segar untuk dianggap lezat. Ada filosofi bahwa proses fermentasi dan pengawetan justru memperkaya rasa dan nilai gizi.
Di beberapa keluarga, century egg disajikan pada momen tertentu. Bukan makanan harian, tapi juga bukan makanan eksklusif. Ia berada di tengah-tengah, cukup istimewa tapi tetap membumi. Ini yang membuatnya bertahan lintas generasi.
Saat masuk ke Indonesia, century egg membawa cerita budaya itu. Ia tidak berdiri sendiri, tapi beradaptasi dengan selera lokal. Disajikan bersama bubur polos, jahe, atau kecap asin, membuat rasanya lebih familiar di lidah orang Indonesia.
Seiring waktu, century egg tidak lagi dianggap asing sepenuhnya. Ia menjadi bagian dari lanskap kuliner urban, terutama di kota-kota besar. Meski belum semua orang menerimanya, keberadaannya kini lebih dihargai sebagai warisan kuliner, bukan sekadar makanan aneh.
Rasa, Aroma, dan Tekstur Century Egg yang Sering Disalahpahami
Salah satu alasan utama kenapa century egg sering ditolak adalah aroma dan tampilannya. Banyak yang langsung mengasosiasikannya dengan bau menyengat atau rasa ekstrem. Padahal, jika dicicipi dengan cara yang tepat, rasanya jauh lebih halus dari yang dibayangkan.
Century egg punya rasa umami yang kuat, dengan sedikit sentuhan asin dan earthy. Putih telurnya kenyal lembut, hampir seperti agar-agar alami. Kuning telurnya creamy, mirip keju lembut dengan rasa yang dalam. Kombinasi ini memberikan pengalaman makan yang unik, tidak biasa, tapi menarik.
Aromanya memang khas. Sedikit sulfur, sedikit fermentasi. Tapi aroma ini bukan berarti busuk. Justru di situlah identitasnya. Sama seperti keju fermentasi atau makanan tradisional lain yang aromanya kuat, century egg butuh waktu untuk dipahami.
Kesalahan umum adalah mencicipi century egg tanpa pendamping. Dimakan langsung bisa terasa terlalu intens. Biasanya, telur ini dipadukan dengan bubur hangat, jahe, atau saus ringan. Pendamping ini menyeimbangkan rasa dan membuat pengalaman makan lebih nyaman.
Bagi pecinta kuliner, mencoba century egg adalah soal membuka pikiran. Tidak semua makanan harus “enak” dalam definisi mainstream. Ada rasa yang menantang, ada tekstur yang tidak biasa, dan justru di situlah letak keunikannya.
Menariknya, setelah beberapa kali mencoba, banyak orang mulai merindukan rasanya. Ini bukan cinta pada gigitan pertama, tapi hubungan yang tumbuh pelan-pelan. Dan jujur saja, tidak semua makanan bisa meninggalkan kesan seperti itu.
Century Egg dalam Dunia Kuliner Modern dan Kreasi Menu Baru
Di era kuliner modern, century egg tidak lagi terjebak dalam resep klasik. Banyak chef dan pelaku kuliner mulai bereksperimen, menggabungkan telur ini dengan konsep masakan kontemporer. Hasilnya? Menarik, kadang kontroversial, tapi selalu bikin penasaran.
Century egg kini bisa ditemukan dalam berbagai bentuk penyajian. Tidak hanya di bubur, tapi juga dalam salad, appetizer modern, bahkan sebagai topping makanan fusion. Teksturnya yang unik membuatnya cocok sebagai elemen kontras dalam hidangan.
Di beberapa restoran, egg dipadukan dengan saus modern, minyak wijen aromatik, atau bahkan disajikan dalam plating minimalis ala fine dining. Ini membuktikan bahwa bahan tradisional bisa naik kelas tanpa kehilangan identitas.
Generasi muda, khususnya food enthusiast dan content creator kuliner, ikut berperan dalam mengubah citra egg. Lewat ulasan jujur dan eksplorasi rasa, stigma perlahan bergeser. Dari “aneh dan ekstrem” menjadi “unik dan berani”.
Namun, tidak semua eksperimen berhasil. Ada juga yang terlalu memaksakan inovasi hingga menghilangkan karakter asli century egg. Di sini, keseimbangan jadi kunci. Inovasi seharusnya memperkaya, bukan menutupi.
Yang jelas, kehadiran century egg dalam dunia kuliner modern menunjukkan satu hal. Kuliner adalah ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Dan century egg, dengan segala kontroversinya, berhasil tetap relevan.
Kontroversi, Nutrisi, dan Masa Depan Century Egg
Seiring popularitasnya, century egg juga tidak lepas dari kontroversi. Isu kesehatan dan keamanan pangan sering muncul, terutama terkait bahan pengawet tradisional. Namun, produsen modern kini menggunakan metode yang lebih aman dan terkontrol.
Dari sisi nutrisi, century mengandung protein, mineral, dan lemak yang cukup tinggi. Proses fermentasi juga mengubah struktur nutrisi, membuatnya lebih mudah dicerna bagi sebagian orang. Meski begitu, konsumsinya tetap perlu seimbang.
Bagi sebagian orang, century adalah acquired taste. Tidak wajib disukai semua orang, dan itu tidak masalah. Dunia kuliner selalu tentang pilihan dan preferensi. Yang penting adalah menghargai keberagaman rasa dan budaya.
Di Indonesia, masa depan century egg cukup menjanjikan, terutama di kalangan urban dan pencinta kuliner unik. Selama edukasi dan kualitas dijaga, telur ini bisa terus menemukan tempatnya di meja makan.
Pada akhirnya, century egg mengajarkan kita satu hal penting. Jangan menilai makanan hanya dari tampilan. Di balik warna gelap dan aroma tajam, ada sejarah panjang, filosofi budaya, dan rasa yang tidak bisa digantikan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan menganggap century sebagai bagian biasa dari eksplorasi kuliner. Tidak lagi aneh, tidak lagi menakutkan. Hanya satu lagi cerita menarik dalam dunia makanan yang terus berkembang.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Food
Baca Juga Artikel Dari: Casu Marzu: Keju Paling Kontroversial di Dunia Kuliner dan Alasan Kenapa Banyak Orang Justru Penasaran
