Mon. Jan 19th, 2026
Motsunabe

JAKARTA, odishanewsinsight.com – Kuliner Jepang memang tidak pernah kehabisan kejutan. Di balik popularitas sushi, ramen, dan takoyaki, tersembunyi satu hidangan hangat yang menjadi kebanggaan warga Fukuoka. Motsunabe hadir sebagai comfort food sejati yang mampu menghangatkan tubuh sekaligus menggoyang lidah. Hidangan hot pot berbahan dasar jeroan ini mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang, namun bagi masyarakat Kyushu, sajian ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner mereka selama puluhan tahun.

Bayangkan semangkuk kuah kaldu yang mengepul panas dengan potongan jeroan sapi kenyal, tumpukan kubis segar, dan taburan daun bawang Cina yang harum. Perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas dari bawang putih serta cabai menciptakan harmoni yang memanjakan indra pengecap. Tidak heran jika motsunabe kini menjadi salah satu hidangan wajib coba bagi wisatawan yang berkunjung ke Prefektur Fukuoka.

Sejarah Panjang Motsunabe dari Era Pasca Perang

Motsunabe

Kelahiran motsunabe tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi Jepang pasca Perang Dunia II. Pada akhir tahun 1940-an hingga 1950-an, masyarakat Jepang menghadapi krisis pangan yang sangat parah. Bahan makanan sulit didapat dan harga melambung tinggi. Di tengah kesulitan tersebut, warga Fukuoka memutar otak untuk tetap bisa menyajikan makanan bergizi dengan biaya terjangkau.

Para pekerja tambang batu bara di kawasan Chikuho memainkan peran penting dalam perkembangan hidangan ini. Mereka membutuhkan asupan berkalori tinggi untuk menunjang pekerjaan berat di bawah tanah. Jeroan sapi dan babi yang saat itu dianggap limbah oleh para penjual daging justru menjadi solusi cemerlang. Potongan usus, babat, dan organ dalam lainnya diolah menjadi hidangan berkuah yang mengenyangkan.

Para pekerja asal Korea yang bermigrasi ke Jepang turut memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan resep motsunabe. Mereka membawa tradisi memasak jeroan dengan daun bawang dalam panci aluminium sederhana. Hidangan ini kemudian dibumbui dengan kecap asin khas Jepang, menciptakan cita rasa baru yang diterima oleh lidah masyarakat lokal.

Bahan Utama dalam Seporsi Motsunabe Autentik

Komponen paling esensial dari motsunabe tentu saja adalah motsu atau jeroan. Istilah motsu sendiri berasal dari dialek Kansai yang berarti sesuatu yang biasanya dibuang. Dalam konteks kuliner modern, motsu merujuk pada berbagai bagian organ dalam hewan yang bisa dikonsumsi. Berikut adalah bahan-bahan yang umumnya digunakan:

Jeroan Sapi

  1. Usus kecil sapi menjadi pilihan paling populer karena teksturnya yang kenyal namun lembut
  2. Usus besar sapi termasuk kategori premium dengan rasio lemak dan daging yang sempurna
  3. Rektum sapi menawarkan tekstur lebih kenyal untuk variasi gigitan

Sayuran Pendamping

  1. Kubis hijau dipotong kotak memberikan rasa manis alami saat matang
  2. Daun bawang Cina atau nira menambah aroma khas yang harum
  3. Bawang putih iris tipis memperkaya cita rasa kuah
  4. Cabai merah kering memberikan sensasi pedas ringan
  5. Taoge dan jamur shimeji sebagai tambahan opsional

Bahan Pelengkap

  1. Tahu sutra atau tahu goreng untuk menyerap kaldu
  2. Mie champon atau udon untuk penutup sajian
  3. Nasi putih sebagai alternatif penghabis kuah

Ragam Kuah yang Membedakan Cita Rasa Motsunabe

Karakteristik motsunabe sangat ditentukan oleh jenis kuah yang digunakan. Setiap restoran biasanya memiliki resep rahasia yang diwariskan turun temurun. Secara umum, terdapat beberapa varian kuah yang populer di kalangan pecinta motsunabe.

Kuah berbasis kecap merupakan gaya tradisional Hakata yang paling klasik. Kaldu dashi dari bonito dan rumput laut kombu menjadi fondasi utama, kemudian dibumbui dengan kecap asin Jepang, sake, dan mirin. Hasilnya adalah kuah bening dengan rasa gurih yang ringan namun kompleks. Varian ini cocok bagi mereka yang ingin menikmati rasa asli jeroan tanpa tertutup bumbu berlebihan.

Kuah berbasis miso menawarkan profil rasa yang lebih kaya dan creamy. Pasta miso putih dipilih karena karakternya yang lembut dan sedikit manis, tidak akan mendominasi kelezatan alami jeroan. Beberapa restoran menambahkan wijen sangrai untuk memberikan dimensi rasa tambahan yang menggugah selera.

Varian modern seperti kuah pedas ala kimchi atau kuah tomat juga mulai bermunculan untuk menarik generasi muda. Meskipun bukan resep tradisional, inovasi ini membuktikan bahwa motsunabe terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

Langkah Menyiapkan Motsunabe di Rumah

Membuat motsunabe sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Dengan bahan yang tepat dan teknik persiapan yang benar, hidangan autentik Fukuoka ini bisa disajikan di meja makan keluarga. Berikut adalah tahapan yang perlu diperhatikan.

Persiapan jeroan menjadi langkah paling krusial. Organ dalam memiliki bau amis yang cukup kuat jika tidak dibersihkan dengan benar. Cuci jeroan dalam air mengalir sambil digosok dengan garam kasar untuk mengangkat lendir dan kotoran. Beberapa juru masak merekomendasikan perendaman dalam air tepung selama 30 menit untuk hasil yang lebih bersih.

Setelah dicuci bersih, jeroan perlu direbus sebentar dalam air mendidih yang sudah ditambahi jahe dan sake. Proses blanching ini bertujuan menghilangkan sisa bau amis tanpa membuat lemak jeroan mencair. Jangan merebus terlalu lama karena tekstur kenyal yang menjadi daya tarik utama bisa hilang.

Penyiapan kuah dilakukan terpisah dengan mencampurkan kaldu dashi, kecap asin, sake, mirin, dan gula. Jika menggunakan miso, larutkan pasta miso dalam saringan agar tidak ada gumpalan yang tersisa. Panaskan kuah hingga mendidih, masukkan jeroan yang sudah diblanching, lalu biarkan meresap selama beberapa menit.

Kubis dimasukkan dalam jumlah banyak karena akan menyusut saat matang. Tunggu hingga kubis layu setengah matang, baru kemudian tambahkan daun bawang Cina, irisan bawang putih, dan potongan cabai di atasnya. Tutup panci dan biarkan uap panas mematangkan semua bahan secara merata.

Tekstur dan Cita Rasa yang Memanjakan Lidah

Pengalaman menyantap motsunabe tidak bisa dipisahkan dari sensasi tekstur yang unik. Jeroan sapi yang dimasak dengan sempurna memiliki karakteristik kenyal namun tetap lembut saat digigit. Lapisan lemak di bagian luar memberikan sensasi creamy yang meleleh di mulut, sementara bagian dalam tetap mempertahankan kekenyalannya.

Kuah motsunabe terasa kompleks dengan lapisan rasa yang bertumpuk. Fondasi umami dari kaldu dashi berpadu dengan gurihnya kecap dan manisnya mirin. Lemak jeroan yang larut dalam kuah menambah dimensi creamy yang membuat setiap tegukan terasa memuaskan. Sentuhan pedas dari bawang putih dan cabai memberikan kehangatan yang pas untuk hidangan musim dingin.

Kubis yang sudah matang menyerap semua kelezatan kuah dan berubah menjadi sangat manis. Teksturnya yang lembut menjadi penyeimbang sempurna untuk kekenyalan jeroan. Daun bawang Cina tetap mempertahankan sedikit renyahnya sambil melepaskan aroma harum yang menggugah selera.

Tips Menikmati Motsunabe ala Warga Lokal Fukuoka

Masyarakat Fukuoka memiliki tradisi tersendiri dalam menyantap motsunabe yang berbeda dari cara makan hot pot pada umumnya. Memahami etika dan kebiasaan ini akan membuat pengalaman kuliner menjadi lebih autentik dan berkesan.

Waktu terbaik menikmati motsunabe adalah di musim dingin ketika suhu udara menurun. Kehangatan dari kuah yang mengepul memberikan kenyamanan luar biasa untuk mengusir dinginnya malam. Warga lokal sering mengucapkan bahwa musim dingin tidak lengkap tanpa semangkuk motsunabe bersama keluarga.

Menyantap motsunabe merupakan aktivitas komunal yang menekankan kebersamaan. Satu panci besar diletakkan di tengah meja, dan semua orang mengambil porsi masing-masing menggunakan sendok atau sumpit khusus. Hindari mencelupkan sumpit pribadi langsung ke dalam panci bersama sebagai bentuk sopan santun.

Penutup hidangan atau shime menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan. Setelah semua bahan habis, kuah yang tersisa digunakan untuk merebus mie champon atau udon. Mie akan menyerap semua sisa kelezatan kuah, menciptakan hidangan penutup yang sangat memuaskan. Alternatif lain adalah memasak nasi dalam kuah hingga menjadi bubur yang gurih.

Minuman pendamping tradisional untuk motsunabe adalah shochu atau sake. Profil rasa yang bersih dari minuman ini membantu menyeimbangkan kekayaan lemak jeroan dan memperdalam cita rasa umami dalam kuah.

Manfaat Kesehatan dari Mengonsumsi Jeroan

Di balik kesan tidak lazim bagi sebagian orang, jeroan sebenarnya menyimpan nilai gizi yang tidak bisa diremehkan. Organ dalam hewan mengandung berbagai nutrisi penting yang sulit ditemukan dalam potongan daging biasa.

Jeroan kaya akan protein berkualitas tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot. Kandungan kolagen dalam usus dipercaya bermanfaat untuk kesehatan kulit dan sendi. Vitamin B kompleks terutama B12 tersedia dalam jumlah melimpah untuk mendukung fungsi sistem saraf.

Zat besi dalam jeroan termasuk jenis heme iron yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber nabati. Hal ini menjadikan motsunabe pilihan tepat bagi mereka yang membutuhkan asupan zat besi tambahan. Zinc dan selenium juga terkandung dalam jumlah signifikan untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.

Kesimpulan

Motsunabe membuktikan bahwa hidangan lezat tidak selalu harus menggunakan bahan mahal atau mewah. Lahir dari keterbatasan pasca perang, hot pot jeroan khas Fukuoka ini kini menjadi kebanggaan kuliner yang dicari wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Perpaduan jeroan sapi yang kenyal, sayuran segar, dan kuah kaldu yang kaya rasa menciptakan pengalaman bersantap yang menghangatkan tubuh sekaligus jiwa. Tradisi menikmatinya bersama keluarga atau teman di sekitar panci mengepul menambah nilai kebersamaan yang melekat pada hidangan ini. Bagi pecinta kuliner yang ingin menjelajahi sisi lain masakan Jepang, motsunabe layak masuk dalam daftar hidangan wajib coba yang akan memberikan kenangan tak terlupakan.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Food

Baca juga artikel lainnya: Sukiyaki Makanan Jepang yang Hangat dan Menggugah Selera

Author

By siti