JAKARTA, odishanewsinsight.com — Kalau Korea Selatan punya cerita yang bisa dimakan, hotteok adalah salah satu paragraf paling hangat. Jajanan ini sering muncul di sudut-sudut jalan saat udara mulai dingin, dijajakan dari gerobak sederhana dengan wajan panas yang menguarkan aroma gula dan kayu manis. Sekilas bentuknya mirip pancake, tapi begitu digigit, sensasinya langsung beda. Bagian luar sedikit renyah, sementara bagian dalamnya lembut dan lumer, seolah menyimpan rahasia kecil yang manis.
Hotteok bukan sekadar makanan, tapi bagian dari rutinitas harian. Banyak orang Korea punya kenangan sederhana tentang membeli sepulang sekolah atau saat jalan santai di malam hari. Dari generasi ke generasi, jajanan ini bertahan bukan karena tren, tapi karena rasa nyaman yang konsisten. Di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Seoul atau Busan, menjadi jeda kecil yang menenangkan.
Menariknya, popularitas hotteok kini tidak lagi terbatas di Korea. Lewat drama Korea, vlog kuliner, dan media sosial, camilan ini ikut melancong ke berbagai negara. Banyak orang yang awalnya penasaran karena sering melihat aktor favorit mereka makan, lalu jatuh cinta setelah mencobanya sendiri.
Proses Memasak yang Jadi Tontonan Seru
Menonton hotteok dibuat di gerobak pinggir jalan adalah hiburan tersendiri. Adonan yang sudah mengembang dibagi bulat-bulat, diisi campuran gula, lalu diletakkan di atas wajan panas. Penjual akan menekannya dengan alat khusus berbentuk bulat dan datar, membuat adonan melebar perlahan.
Suara desisan halus dari wajan dan aroma manis yang keluar sering kali membuat orang berhenti dan ikut mengantre. Proses ini terlihat sederhana, tapi butuh pengalaman. Api harus pas, tekanan harus tepat, dan waktu membalik harus akurat. Kalau terlalu cepat, isian belum meleleh sempurna. Kalau terlalu lama, bagian luar bisa gosong.
Justru dari proses inilah punya daya tarik visual yang kuat. Tidak heran kalau banyak video pembuatan hotteok viral di media sosial. Ada kepuasan tersendiri melihat adonan berubah menjadi camilan hangat yang siap disantap.
Bahan Sederhana dengan Rasa yang Nendang
Salah satu alasan hotteok mudah diterima di mana saja adalah komposisi bahannya yang sederhana. Adonan dasarnya terbuat dari tepung terigu, ragi, air atau susu, sedikit gula, dan garam. Tidak ada bahan aneh atau sulit dicari. Tapi keajaiban justru ada di isinya.
Isian klasik hotteok biasanya berupa campuran gula merah atau brown sugar, kacang cincang, dan kayu manis. Saat adonan dipanggang dan ditekan di wajan, gula di dalamnya meleleh, menciptakan sirup manis yang hangat. Ketika digigit, sensasi manis dan aroma rempah langsung menyebar di mulut.

Seiring waktu, variasi hotteok makin beragam. Ada isi keju yang lumer dan gurih, cokelat yang lebih modern, hingga versi gurih dengan isian sayur dan daging. Beberapa penjual bahkan berani bereksperimen dengan rasa lokal di luar Korea, menyesuaikan selera pasar tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Hotteok dan Budaya Nongkrong Santai
Di Korea, hotteok sering jadi teman ngobrol. Dimakan sambil berdiri, berjalan, atau duduk santai di bangku pinggir jalan. Tidak perlu acara khusus. hadir sebagai pengisi celah kecil di antara aktivitas sehari-hari.
Budaya ini perlahan ikut terbawa ke negara lain. Di Indonesia misalnya, mulai muncul di festival kuliner Korea, kafe tematik, hingga gerai kecil di pusat perbelanjaan. Cara menikmatinya pun mirip. Santai, tanpa aturan, dan lebih fokus pada rasa.
Hotteok juga sering dianggap comfort food. Makanan yang tidak ribet, tidak berisik, tapi mampu memberi rasa hangat dan puas. Di hari hujan atau malam yang dingin, terasa seperti pelukan kecil dalam bentuk makanan.
Hotteok di Era Modern dan Tren Kuliner
Meski termasuk makanan tradisional, hotteok tidak ketinggalan zaman. Banyak pelaku usaha kuliner yang mengemasnya dengan tampilan lebih modern. Ada mini, beku siap masak, hingga dengan plating ala kafe.
Tren ini menunjukkan bahwa makanan tradisional bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Hotteok tetap , tapi dengan wajah baru yang lebih fleksibel. Bahkan di beberapa negara, dijadikan menu dessert unik yang bersaing dengan pancake dan waffle.
Media sosial juga punya peran besar. Foto dengan isian meleleh sering jadi konten yang menggoda. Dari situ, hotteok tidak hanya dikenal sebagai jajanan, tapi juga sebagai simbol gaya hidup santai ala street food Korea.
Penutup Manis yang Selalu Dirindukan
Hotteok bukan sekadar camilan manis. Ia adalah potongan kecil dari budaya Korea yang bisa dinikmati siapa saja. Dari bahan sederhana, proses memasak yang jujur, hingga rasa yang konsisten, membuktikan bahwa kuliner tidak harus rumit untuk berkesan.
Di tengah tren makanan yang datang dan pergi, hotteok tetap bertahan dengan caranya sendiri. Hangat, manis, dan penuh cerita. Setiap gigitan seolah mengajak kita berhenti sejenak, menikmati momen, dan tersenyum tanpa alasan besar. Itulah kekuatan , sederhana tapi selalu punya tempat di hati.
Di tengah tren makanan yang datang dan pergi, hotteok tetap bertahan dengan caranya sendiri. Hangat, manis, dan penuh cerita. Setiap gigitan seolah mengajak kita berhenti sejenak, menikmati momen, dan tersenyum tanpa alasan besar. Itulah kekuatan, sederhana tapi selalu punya tempat di hati.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang food
Baca juga artikel menarik lainnya mengenai Pempek Panggang: Cita Rasa Palembang yang Selalu Bikin Rindu
