Tue. Jun 30th, 2026
Kue Dongkal

JAKARTA, odishanewsinsight.com – Tidak seperti kue putu, kue cubir, atau kue lapis yang masih mudah ditemukan di berbagai sudut pasar Jakarta, kue dongkal sudah menjadi jajanan yang membutuhkan sedikit usaha ekstra untuk ditemukan. Selanjutnya, beberapa pedagang tua di pasar-pasar tradisional di Jakarta masih menjualnya di pagi hari, tapi harus datang lebih awal. Biasanya habis terjual sebelum siang. Kemudian, kelangkaan itulah yang justru membuat kue dongkal semakin berharga di mata para pecinta kuliner Betawi yang ingin merasakan jajanan masa lampau.

Kue dongkal adalah kue kukus khas Betawi yang dibuat dari tepung beras kasar. Yang dicampur dengan parutan kelapa dan dikukus dengan isian gula merah yang sangat legit di dalamnya. Selain itu, bentuknya sangat khas: kerucut putih dengan bagian atas. Yang sedikit terbuka memperlihatkan gula merah cokelat yang mengintip di dalamnya, seolah mengundang untuk segera dimakan.

Sejarah Kue Dongkal dalam Tradisi Betawi

Kue Dongkal

Kue dongkal adalah bagian dari kekayaan jajanan pasar Betawi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pertama, jajanan berbahan dasar tepung beras dan gula merah adalah pola yang sangat umum dalam tradisi kuliner Nusantara. Kedua bahan itu sangat mudah didapat dan sangat murah hampir di seluruh pelosok kepulauan. Kedua, nama “dongkal” sendiri konon berasal dari bahasa Betawi yang berarti tumpul atau tidak tajam — merujuk pada bentuk puncak kerucutnya yang tidak runcing sempurna melainkan sedikit tumpul.

Selanjutnya, kue dongkal hadir dalam setiap hajatan dan acara keluarga Betawi sebagai bagian dari rangkaian kue tujuh warna atau seserahan. Kemudian, seiring pergeseran zaman dan perubahan selera konsumen modern yang lebih menyukai jajanan dengan packaging menarik dan rasa yang lebih intense, kuedongkal perlahan terpinggirkan dari pasar dan mulai jarang ditemukan.

Upaya Melestarikan Kue Dongkal

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai komunitas kuliner Betawi dan beberapa festival jajanan tradisional di Jakarta aktif mengangkat kue dongkal kembali ke permukaan. Pertama, beberapa chef dan food blogger mulai mendokumentasikan resep kue dongkal dari sumber-sumber yang masih menjaganya. Kedua, beberapa gerai jajanan Betawi di pusat perbelanjaan dan food court mulai menyertakan kuedongkal sebagai bagian dari menu mereka. Selanjutnya, upaya pelestarian ini sangat penting. Ketika generasi yang masih mengenal cara membuat kuedongkal sudah tidak ada, resep itu bisa hilang sepenuhnya.

Bahan-Bahan Kue Dongkal

Bahan Kulit Kue Dongkal

  • 300 gram tepung beras kasar atau tepung beras yang tidak terlalu halus
  • 50 gram kelapa parut agak tua, kelapa yang terlalu muda tidak cocok
  • Setengah sendok teh garam
  • Air matang secukupnya, sekitar 150 ml ditambahkan bertahap

Bahan Isian Kue Dongkal

  • 150 gram gula merah, serut atau iris tipis
  • 50 gram kelapa parut kasar untuk dicampur dengan gula

Alat Khusus

  • Kukusan yang sudah dilapisi daun pisang atau kain bersih di dasarnya
  • Cetakan kerucut dari daun pisang yang digulung berbentuk kerucut kecil, atau bisa menggunakan cetakan kue plastik berbentuk kerucut

Cara Membuat Kue Dongkal

Membuat Adonan Tepung Beras

  1. Campurkan tepung beras kasar dengan kelapa parut dan garam dalam mangkuk besar. Selanjutnya, tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diremas-remas dengan tangan hingga tepung beras menggumpal ketika digenggam tapi mudah hancur kembali ketika diremas lebih keras. Kemudian, konsistensi inilah yang paling khas dari adonan kue dongkal — tidak seperti adonan kue biasa yang basah dan bisa dituang, adonan kuedongkal lebih menyerupai pasir basah yang menggumpal.
  2. Saring atau remas adonan tepung beras agar tidak ada gumpalan keras yang besar. Selanjutnya, adonan yang terlalu basah akan menghasilkan kue yang padat dan terlalu lembek sementara adonan yang terlalu kering akan menghasilkan kue yang mudah hancur dan tidak menyatu. Namun dengan tambahan air yang tepat, adonan akan menghasilkan kue yang sangat legit namun tetap bertekstur sedikit berpasir yang sangat khas.

Membentuk dan Mengisi Kue Dongkal

  1. Siapkan cetakan kerucut dari daun pisang. Selanjutnya, masukkan satu sendok makan adonan tepung beras ke dasar cetakan dan tekan sedikit. Kemudian, letakkan satu sendok teh campuran gula merah dan kelapa parut di tengah lalu tutup dengan adonan tepung beras lagi dan padatkan sedikit. Oleh karena itu, perbandingan antara ketebalan kulit dan jumlah isian sangat penting — terlalu sedikit isian akan membuat kue terasa hambar, terlalu banyak isian akan membuat kulit tidak kuat menahan ketika dikukus.
  2. Susun kue dongkal yang sudah dibentuk ke dalam kukusan yang sudah dialasi daun pisang. Selanjutnya, pastikan jarak antar kue cukup karena kue akan sedikit mengembang saat dikukus. Kemudian, tidak perlu menekan kue terlalu keras ke dalam cetakan karena kuedongkal yang baik justru punya tekstur yang sedikit remah namun tetap bisa dipegang dengan baik.

Mengukus Kue Dongkal

  1. Kukus kue dongkal di atas air yang sudah mendidih dengan api sedang selama 20 hingga 25 menit. Selanjutnya, jangan membuka tutup kukusan di 15 menit pertama karena perubahan suhu mendadak bisa membuat kue menjadi keras. Kemudian, kuedongkal matang ketika permukaannya terlihat sedikit mengkilap dan adonan tidak lagi terlihat mentah putih pucat melainkan sudah berubah menjadi sedikit transparan.
  2. Keluarkan kuedongkal dari kukusan dan biarkan sedikit dingin sebelum dilepas dari cetakan daun pisang. Selanjutnya, gula merah di dalam yang sudah meleleh selama pengukusan akan sedikit mengalir ke adonan di sekitarnya menciptakan lapisan kecokelatan manis yang sangat lezat. Kemudian, sajikan kuedongkal dalam kondisi hangat karena tekstur dan rasanya paling baik saat masih hangat.

Mengapa Tepung Beras Kasar Bukan yang Halus

Pilihan menggunakan tepung beras kasar dalam kuedongkal bukan tanpa alasan. Pertama, tepung beras kasar menghasilkan tekstur yang lebih berpasir dan lebih berkarakter dibanding tepung beras halus yang menghasilkan tekstur yang lebih mulus dan lebih padat. Kedua, tekstur berpasir yang sangat khas itulah yang menjadi ciri utama kue dongkal. Dan membedakannya dari kue berbahan tepung beras yang lain seperti kue lapis atau kue apem.

Selanjutnya, di beberapa resep tradisional Betawi, beras dipotong kasar menggunakan penumbuk bukan digiling halus di mesin penggilingan. Menghasilkan tepung yang sangat kasar dan sangat berkarakter. Kemudian, proses menumbuk manual ini menghasilkan partikel tepung yang tidak seragam ukurannya. Tekstur kue dongkal menjadi sangat bervariasi dan sangat khas.

Manfaat Kue Dongkal sebagai Jajanan Tradisional

Kue dongkal mengandung bahan-bahan alami yang sangat baik untuk kesehatan. Pertama, tepung beras sebagai bahan utama tidak mengandung gluten sehingga sangat cocok untuk mereka yang memiliki sensitivitas gluten. Kedua, gula merah yang digunakan sebagai isian mengandung mineral penting seperti zat besi, magnesium,. Dan kalium yang tidak ada dalam gula putih.

Selanjutnya, kelapa parut mengandung serat dan lemak rantai sedang yang baik untuk kesehatan pencernaan. Dan memberikan energi yang cukup tahan lama. Kemudian, kue dongkal tidak mengandung bahan pengawet, pewarna buatan, atau perisa sintetis — semua rasa. Yang ada berasal dari bahan alami yang sangat sederhana.

Kesimpulan: Kue Dongkal, Warisan yang Masih Bisa Diselamatkan

Kue dongkal mengajarkan bahwa warisan kuliner tidak akan hilang selama ada orang yang mau belajar membuatnya dan terus mengajarkannya. Selanjutnya, kelangkaannya hari ini adalah alarm, bukan kematian. Kemudian, setiap orang yang belajar membuat kue dongkal dari resep. Yang masih tersisa adalah satu simpul lagi dalam rantai tradisi yang tidak terputus.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Food

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Melon Pan: Roti Manis Jepang yang Tidak Selalu Berbau dan Berasa Melon

Author

By siti